SEMARANG, INIKAMPUS – Siapa sangka, serat Jawa dari masa lalu masih memiliki pesan penting untuk menghadapi persoalan relasi masa kini.
Tim PKM-RSH Rerengkuh Universitas Negeri Semarang (UNNES) menemukan nilai-nilai dalam Serat Wedha Tanaya yang relevan sebagai bekal edukasi untuk mengenali dan mencegah ancaman child grooming.
Ketua tim ini Nur Nabila Azzahra dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa dengan anggota Ipang Puji Saputro, Narendra Holistya Tanaya, Khodijah Syifaa Syofiraa, dan Aghnia Larivka Pradina Hanafi.
Pendamping penelitian ini Dr. Nur Hanifah Insani, S.Pd., M.Pd., dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa FBS Unnes.
Mereka memperoleh temuan melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama akademisi Prof. Dr. Yusro Edy Nugroho, S.S., M.Hum. dan Dr. Doni Dwi Hartanto, S.Pd., M.Pd.
Diskusi untuk menggali dan mengontekstualkan nilai Serat Wedha Tanaya dengan persoalan relasi perempuan masa kini.
Dari pupuh Dhandhanggula, tim menemukan nilai momong, asih, bertanggung jawab, dan pengayom yang kemudian direinterpretasikan dalam Model Rerengkuh sebagai prinsip untuk mengenali relasi sehat dan mewaspadai manipulasi, kontrol, serta ketergantungan.
Sementara itu, pupuh Kinanthi memperkenalkan konsep empat lamak, yaitu lamaking wanci, lamaking warni, lamaking rukmi, dan lamaking budi, yang bermakna pertimbangan dalam memilih pasangan secara lebih matang.
“Lewat Rerengkuh, kearifan lokal Jawa tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dihidupkan kembali sebagai pendekatan edukatif untuk menghadapi persoalan sosial masa kini,” ungkap Nur Hanifah Insani kepada inikampus.id, Selasa (09/09/2026), di kampus Unnes.
Menurut Hanifah, kata rerengkuh dalam bahasa Jawa artinya merengkuh diri, menguatkan perempuan, atau melindungi masa depan.
