SEMARANG, INIKAMPUS – Roch Aris Hidayat meraih gelar doktor Ilmu Pendidikan Bahasa di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Senin (23/2/2025).
Disertasinya “Suluk Piwulang sebagai Sumber Inspirasi Pendidikan Karakter Spiritual: Studi Filologis dengan Pendekatan Strukturalisme Genetik di Pura Mangkunegaran Surakarta”.
Peneliti Balai Litbang Agama Semarang ini menyusun disertasi dengan promotor Prof. Dr. Wasino M.Hum., kopromotor Prof. Dr. Yusro Edy Nugroho, S.S., M.Hum., dan anggota Dr. Fakhriati, M.A.
Sidang ujian dipimpin Mohamad Yusuf Ahmad Hasyim Lc., M.A., Ph.D. dengan sekretaris Widhiyanto, S.Pd., M.Pd., Ph.D..
Penguji eksternal Prof. Sahid Teguh Widodo, Ph.D., sedangkan penguji internal Dr. Muhamad Burhanudin, S.S., M.A.
Suluk sebagai Ajaran Kehidupan
Aris Hidayat mengemukakan, karya sastra Jawa sebagian besar berisi ajaran nilai-nilai kehidupan sehari-hari.
Dia juga menyebutkan, masyarakat Jawa pada umumnya memercayai karya sastra sebagai acuan dalam menjalani kehidupan.
“Karena itu, sangat mendesak untuk menjadikan karya sastra Jawa sebagai sumber inspirasi bagi penguatan karakter,” katanya.
Berdasarkan penelitiannya, Arif Hisayat menyimpulkan, serat suluk piwulang Suluk Aspia, Makmunuradi Salikin, dan Bayyanullah adalah panduan tasawuf yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dan tradisi Jawa.
“Menekankan pada tirakat, dzikir, dan kontemplasi, serat ini membantu perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri pada Allah dan mencapai kesadaran ilahi” ungkapnya.
Relevan sebagai Pedoman
Dia juga menyimpulkan, ajarannya tetap relevan sebagai pedoman bagi mereka yang ingin menyucikan jiwa dan memahami hakikat kehidupan secara mendalam.
Berdasarkan prinsip Islam, lanjut dia, perjalanan menuju penyatuan ini melalui beberapa tahapan.
Pertama, takhalli atau pembersihan diri yaitu mengosongkan hati dari sifat-sifat tercela seperti kesombongan, iri hati, dan cinta dunia.
Dalam suluk, ini tergambarkan sebagai lagu tirakat, semedi, dan mujahadah untuk melawan hawa nafsu.
Kedua, tahalli atau pengisian diri, yaitu mengisi jiwa dengan sifat-sifat terpuji seperti keikhlasan, tawakal, dan cinta kepada Allah.
Nilai-nilai ini seringkali disimbolkan dalam suluk melalui praktik dzikir, doa, dan kontemplasi.
Ketiga, tajalli atau pencerahan, yaitu puncak perjalanan spiritual seseorang hamba yang dapat merasakan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan.
“Nilai-nilai ini terangkum dalam model penguatan karakter spiritual yang meliputi tiga cara atau metode pencapaian kesempurnaan hidup dalam pendekatan diri kepada Tuhan, yaitu takhalli-tahalli, dan tajalli,” tandasnya.

