SEMARANG, INIKAMPUS – Dekan FKes Udinus, Dr Enny Rachmani terpilih sebagai Wakil Presiden Asian Health Literacy Association (AHLA) untuk periode 2025–2026.
Penunjukan yang berlangsung dalam ajang bergengsi 11th AHLA International Health Literacy Conference di CSMUH, belum lama ini.
Terpilihnya Dr Enny secara tidak langsung pula membawa nama Udinus semakin eksis di kancah internasional.
Dr Enny kini menempatkan perwakilan Indonesiadi jajaran kepemimpinan tertinggi organisasi literasi kesehatan se-Asia.
Menurutnya, jabatan ini merupakan amanah besar untuk membawa isu kesehatan Indonesia ke level global.
Cahya Mahasiswa RMIK Udinus: Rajin Ikuti Kompetisi, Kumpulkan Prestasi
“Kehormatan luar biasa bagi saya sekaligus pengakuan bagi komitmen Indonesia dalam isu literasi kesehatan.”
“Amanah ini menjadi momentum bagi semua untuk memimpin gerakan literasi kesehatan di tingkat Asia,” ujar Enny.
Mengusung tema “Health Literacy and AI for Healthy World”, rangkaian konferensi AHLA membahas tantangan kesehatan di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
“Kami di Udinus terus mendorong agar literasi kesehatan menjadi prioritas nasional.”
Menurut Enny, posisi strategis ini akan dimanfaatkan untuk memastikan teknologi kesehatan tidak hanya canggih, tapi juga bisa dipahami masyarakat luas.
“Tantangan ke depan ada di integrasi AI dengan kesehatan.”
“Perkembangan teknologi dan kebijakan kesehatan harus dikawal agar dapat diakses serta dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya di kota besar tapi sampai ke pelosok Asia,” jelasnya.
Bentuk Pengakuan Internasional
Menurut Rektor Udinus, Prof Dr Pulung Nurtantio Andono, terpilihnya dosen Udinus merupakan bentuk pengakuan dunia internasional atas konsistensi Udinus.
Udinus bahkan telah memegang peran sentral sebagai AHLA Indonesia Country Office sejak 2013.
Kontingen Udinus juga membawa misi khusus dalam konferensi ini.
Mengawal isu strategis terkait masuknya Literasi Kesehatan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2029.
“Kami di Udinus terus mendorong agar literasi kesehatan menjadi prioritas nasional.”
“Melalui jejaring AHLA, kami ingin menyelaraskan standar global dengan kebutuhan lokal di Indonesia,” katanya. (*)
Sumber: Udinus

