Ada beberapa persoalan yang menunjukkan benang merah itu.
Pertama, waktu bekerja yang terlalu lama.
Kedua, lingkungan kerja yang tidak sehat.
Ketiga, tidak adanya penghargaan atas kerja keras.
Keempat, ketimpangan pengambilan keputusan.
Dan, kelima, terbatasnya waktu untuk mengerjakan pekerjaan terbukti berkontribusi besar dalam beban psikologis.
Kompas.com melansir, terdapat beberapa alasan mengapa Gen Z lebih menyukai freelance daripada kerja kantoran.
Salah satunya karena visibilitas untuk menerapkan work-life balance.
Freelancer umumnya mengerjakan pekerjaannya secara perorangan sehingga mereka memiliki kebebasan untuk membagi waktu sesuai dengan kapabilitas diri.
Fleksibilitas
Gen Z dalam dunia kerja cenderung mencari keseimbangan hidup, fleksibilitas, dan makna dalam pekerjaan.
Mereka adalah generasi yang adaptif, melek teknologi, dan kreatif.

