SEMARANG, INIKAMPUS – Tim pengabdian kepada masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unnes menggelar Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) DPPM Kemdiktisaintek Tahun 2026 di Sanggar Rompok Seni Brotosejati (RSB), Pakintelan, Gunungpati, Semarang.
Program bertajuk “Digitalisasi Kethoprak: Optimalisasi Produksi Naskah dan Konten Kreatif melalui Strategi SIMAK di Rompok Seni Brotosejati Semarang”.
Tim diketuai Sungging Widagdo dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unnes.
Tim beranggota Rimasari Putri Pramesti (Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik) dan Arif Fiyanto (Program Studi Desain Komunikasi Visual).
Program dirancang sebagai pemberdayaan masyarakat seni agar tidak hanya mempertahankan eksistensi ketoprak sebagai seni pertunjukan tradisional, tetapi juga mampu beradaptasi dengan ekosistem digital.
Pendekatan dikembangkan melalui Strategi SIMAK untuk mengoptimalkan kemampuan anggota sanggar dalam memproduksi naskah sekaligus mengembangkan konten kreatif yang relevan dengan karakteristik media digital.
Program dilakukan secara berkelanjutan melalui serangkaian pelatihan dan pendampingan.
Pendekatan berkelanjutan tersebut memungkinkan anggota Sanggar RSB tidak berhenti pada pemahaman materi, tetapi memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh serta mendapatkan pendampingan dalam proses pengembangannya.
Pelatihan dan pendampingan terbaru dilaksanakan Kamis, 20 Agustus 2026, di Rompok Seni Brotosejati, Pakintelan, Gunungpati, Semarang.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian penguatan kapasitas anggota sanggar dalam mengembangkan potensi seni kethoprak melalui pemanfaatan teknologi dan media digital.
Mengintegrasikan Aspek Produksi
Dalam kegiatan tersebut, tim memberikan pendampingan yang mengintegrasikan aspek produksi naskah, pengembangan gagasan kreatif, serta pemanfaatan media digital untuk mendukung publikasi dan promosi karya.
Kolaborasi lintas bidang dalam tim pengabdian menjadi salah satu kekuatan program, karena pengembangan ketoprak tidak hanya membutuhkan kemampuan kesastraan dan dramaturgi, tetapi juga keterampilan seni pertunjukan serta strategi komunikasi visual.
Ketua Tim Sungging Widagdo mengatakan, digitalisasi tidak untuk menghilangkan karakter tradisional ketoprak.
“Sebaliknya, teknologi menjadi sarana untuk memperluas ruang ekspresi dan jangkauan apresiasi masyarakat terhadap ketoprak,” ungkap Sungging.
Digitalisasi, lanjut dia, menjadi salah satu strategi agar ketoprak mampu hadir di tengah perubahan pola konsumsi budaya masyarakat.
“Tradisi tetap menjadi fondasi, sementara teknologi dimanfaatkan sebagai medium untuk memperluas jangkauan, meningkatkan kreativitas, dan membuka peluang regenerasi,” ujarnya.
Menurutnya, keberlanjutan program menjadi aspek penting dalam pemberdayaan masyarakat.
Hal senada disampaikan Suhasto, pengurus Sanggar Rompok Seni Brotosejati, mengungkapkan apresiasinya atas pendampingan yang dilakukan tim pengabdian Unnes.
“Kami berharap program seperti ini dapat dilanjutkan untuk pengembangan manajemen RSB maupun kesenian ketoprak yang berkembang di sini,” kata Suhasto.
Program PKM DPPM Kemdiktisaintek 2026 ini sekaligus menunjukkan bahwa perguruan tinggi dapat mengambil peran strategis dalam mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat.
