SEMARANG, INIKAMPUS – Bahasa Jawa telah mengalami transformasi karena pengaruh budaya global dan teknologi.
Meski di Indonesia dituturkan oleh lebih dari 80 juta orang, regenerasi bahasa Jawa tergolong mengkhawatirkan.
Diperlukan upaya yang lebih sistematis untuk bisa mempertahankan sekaligus mengembangkan bahasa Jawa agar selalu relevan bagi generasi muda.
Dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (Unnes), Dhoni Zustiyantoro, mengatakan lanskap bahasa Jawa telah mengalami transformasi besar dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.
Ia menyebut perubahan lanskap tersebut terutama disebabkan oleh perkembangan teknologi informasi, transmisinya di dalam keluarga, dan penggunaannya di ruang publik.
“Tantangannya kini adalah membuat bahasa Jawa tetap relevan dan menjadi identitas sosial bagi masyarakat penuturnya,” ujar Dhoni, Kamis, 20 Agustus 2026.
Menurut Dhoni, “bahasa Jawa gado-gado” atau penggunaan bahasa Jawa yang bercampur dengan bahasa Indonesia pada masa sekarang tidak terhindarkan lagi.
Di wilayah urban, terutama perkotaan seperti Semarang, justru dengan cara itulah bahasa Jawa berkembang dan menyatu dengan situasi sosial yang beragam.
“Dalam konteks ini, mesti dipahami bahwa penutur bahasa campur-campur tidak berniat untuk merusak pakem kebahasaan, tapi menunjukkan, justru bahasa Jawa menjadi hidup. Ada upaya nyata masyarakat penuturnya untuk mempertahankan bahasa Jawa dengan terus menggunakannya, meski jika dicermati kurang sesuai dengan aturan kebahasaan yang kompleks,” kata dosen Program Studi Sastra Jawa Unnes itu.
Kekhasan Bahasa di Semarang
Berdasarkan penelitiannya bersama dosen dari Monash University di Australia, Yacinta Kurniasih, bahasa Jawa di Semarang memiliki kekhasan. Sebab, sebagai kota perdagangan, Semarang telah menjadi tempat persinggungan yang intens dengan para pendatang.
Kekhasan tersebut antara lain adanya penutur yang menggunakan bahasa Jawa krama untuk dirinya sendiri, dialek khas semarangan, hingga dukungan dari media massa lokal dan berbagai komunitas yang mengembangkan pelatihan untuk warga.
Yacinta menuturkan, diaspora Jawa di Australia melakukan kegiatan yang beragam agar selalu terkoneksi dengan kebudayaannya di Tanah Air. Mereka membentuk kelompok kesenian, menggelar pelatihan tentang musik Indonesia seperti gamelan dan angklung, hingga kuliner dan kegiatan di perayaan hari besar nasional Indonesia.
Karena itu, lanjut dia, bahasa mesti dipahami secara lebih luas.
“Tidak hanya bahasa sebagai komunikasi sehari-hari, tapi juga dalam bentuknya sebagai produk kebudayaan,” tandas Yacinta.(*)
