BANDUNG, YOGYAKARTA – INIKAMPUS – Bagi banyak anak kos di kota besar, pengeluaran listrik sering kali menjadi beban tersembunyi yang menguras dompet.
Setiap bulan, mereka berusaha agar token listrik senilai Rp50.000 hingga Rp100.000 cukup untuk kebutuhan dasar, termasuk menyalakan kipas, kulkas, atau bahkan pendingin ruangan (AC).
Namun, harapan itu kerap pupus ketika saldo kWh habis sebelum akhir bulan.
Dosen Teknik Ketenagalistrikan Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung (ITB), Syarif Hidayat menegaskan, token listrik Rp100.000 untuk pengguna AC biasanya tidak bertahan satu bulan penuh.
“Token listrik Rp100.000 itu enggak cukup pasti,” ujarnya, Rabu (12/11/2025).
Sementara itu, Dosen Pendidikan Teknik Elektro Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Toto Sukisno, menilai kebiasaan penggunaan listrik yang boros menjadi penyebab utama token cepat habis.
“Prinsip dasar penghematan energi itu sederhana, matikan peralatan yang tidak digunakan,” katanya, Senin (10/11/2025).
Simulasi Penggunaan Listrik di Kamar Kos
Syarif memaparkan simulasi sederhana untuk memahami konsumsi listrik AC di kamar kos. Jika seseorang menyalakan AC berkapasitas ½ PK dengan daya maksimum 400 watt selama 10 jam per hari, konsumsi listrik mencapai 4 kWh per hari.
