Ia menjelaskan, perangkat dengan label bintang hijau lima menunjukkan efisiensi terbaik. “Peralatan yang paling efisien jumlah bintangnya lima,” tegasnya.
Kipas, setrika, atau charger berlabel hemat energi bisa menekan konsumsi kWh harian secara signifikan.
Hindari Kebiasaan dan Alat yang Boros Energi
Toto mengingatkan agar penghuni kos tidak menggunakan alat elektronik yang rusak atau diperbaiki seadanya.
Menurutnya, perangkat semacam itu justru menyedot daya lebih besar.
“Kalau motor alat sudah dililit ulang, efisiensinya turun dan jadi lebih boros,” jelasnya.
Sebaliknya, penggantian komponen elektronik seperti resistor atau kapasitor tidak berpengaruh pada konsumsi energi.
Sementara itu, Syarif menyarankan agar anak kos tidak menghemat dengan cara mematikan AC terlalu cepat.
“Kalau AC cuma dinyalakan empat jam, ya bisa saja hemat, tapi apakah nyaman untuk tubuh?” ujarnya. Ia menilai, keseimbangan antara kenyamanan dan efisiensi harus menjadi prioritas utama.
Bangun Kebiasaan Kolektif Hemat Listrik
Selain faktor individu, Toto menilai bahwa semangat penghematan listrik perlu dibangun secara kolektif antar penghuni kos.
“Organisasi dalam lingkup kos penting agar ada tim yang kompak mengatur penggunaan energi,” ujarnya.
Langkah kecil seperti membuat jadwal penggunaan alat bersama, mematikan lampu di siang hari, atau mengontrol suhu kulkas bisa membantu token bertahan lebih lama.
Kedua dosen tersebut sepakat bahwa penghematan listrik tidak hanya soal nominal token, melainkan soal kesadaran energi.
“Energi itu mahal, dan setiap tindakan kecil memberi dampak besar bagi pengeluaran,” tutur Toto.
Baik Syarif maupun Toto sama-sama menekankan pentingnya strategi hemat listrik yang realistis bagi anak kos.
