Dengan tarif dasar listrik November 2025 sebesar Rp1.444,70 per kWh, maka biaya harian mencapai sekitar Rp5.778,8. Dalam sebulan, kebutuhan itu melonjak hingga Rp173.364.
Namun, menurutnya, angka tersebut bisa ditekan.
“Kalau penyekatannya bagus, daya rata-rata bisa turun ke 200 watt,” jelasnya.
Dengan konsumsi 200 watt selama 10 jam, kebutuhan listrik hanya 2 kWh per hari, atau sekitar Rp2.889,4. Artinya, token Rp100.000 bisa cukup hingga 30 hari, bahkan menyisakan saldo untuk alat elektronik lain.
Toto juga menjelaskan hal serupa bagi pembeli token Rp50.000.
Berdasarkan hitungan, pelanggan dengan daya 1.300–2.200 VA di Jakarta dan tarif Rp1.444,70 per kWh akan memperoleh sekitar 33,77 kWh setelah dikurangi Pajak Penerangan Jalan (PPJ) sebesar 2,4 persen.
Dengan rata-rata penggunaan harian 1,45 kWh, token Rp50.000 idealnya bertahan 24 hari.
“Anak kos sebetulnya bisa hemat asalkan memahami perilaku penggunaan listriknya,” tutur Toto.
Atur Suhu AC dan Gunakan Alat Hemat Energi
Syarif menekankan pentingnya pengaturan suhu AC agar konsumsi daya tetap efisien.
Ia mengingatkan, menyalakan AC pada suhu 18 derajat Celsius dapat mengaktifkan daya maksimum hingga 400 watt.
“Kalau dipasangnya 23 derajat Celsius, daya rata-ratanya hanya 200 watt,” ujarnya.
Dengan suhu itu, pengguna tetap merasa nyaman tanpa mengorbankan banyak energi.
Selain pengaturan suhu, Toto mengimbau agar penghuni kos memilih peralatan elektronik hemat energi.
