JAKARTA, INIKAMPUS – “Kampus harus menjadi lokomotif perubahan, bukan menara gading”
Demikianlah pernyataan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto di Jakarta pada Senin (30/6/2025).
Penekanan itu menurut Brian, jika perguruan tinggi seyogyanya memegang peran sentral dalam menghadapi berbagai tantangan.
Sebagai contoh tantangan berkaitan perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, maupun disrupsi teknologi.
Empat Film Animasi Mahasiswa Udinus Lolos Kurasi Craft Animfest 2025, Catat Jadwal Pemutarannya
Ini 10 Kampus Negeri Paling Top di Indonesia versi QS WUR 2026, UI di Puncak
“Saat ini bersama perlu mengakui, bahwa, tingkat penyelesaian pendidikan tinggi di Indonesia baru mencapai sekira 10 persen dari populasi produktif.”
“Ini yang kemudian menjadi hambatan signifikan dalam upaya peningkatan daya saing,” jelas Brian.
Tak pelak, kontribusi sektor manufaktur teknologi tinggi yang stagnan di angka 30 persen sejak 2014 menjadi satu indikasi deindustrialisasi yang perlu bersama mengatasinya.
“Tentunya ini perlu kolaborasi seluruh pihak, mulai dari perguruan tinggi, industri, maupun pemerintah daerah,”
“Dorongan transformasi inilah yang mestinya tak bisa terpisah-pisahkan dalam upaya membangun budaya ilmiah yang produktif serta berkelanjutan,” tandas Brian.
Dia menegaskan, semakin maju suatu negara, semakin besar pula kebutuhan talenta sains dan teknologi.
Karena itu, peran perguruan tinggi wajib dikuatkan sebagai bagian penting daya dukung industri lokal berbasis sumber daya alam.
“Termasuk juga di dalamnya, dorongan inklusivitas pendidikan tinggi di Indonesia,” jelasnya. (*)

