Kolaborasi Lintas Sektor
Dia menyebut, tantangan terbesar adalah penolakan sebagian keluarga akibat rasa malu atau minimnya pemahaman terkait stunting.
Karena itu, kolaborasi lintas sektor dinilai penting, termasuk dukungan kebijakan, peran aktif ASO, dan sinergi dengan perusahaan sekitar Salatiga.
“Stunting selalu berkaitan dengan sanitasi, lingkungan, dan rantai pangan.”
“Kerja sama dengan Kementerian PU menjadi langkah strategis untuk memperkuat intervensi,” tambahnya.
Terpisah, Dekan FISKOM sekaligus penggagas gerakan GENTING di UKSW, Dr Sri Suwartiningsih menyampaikan bahwa keberlanjutan program selama satu dekade menjadi fondasi utama yang membawa UKSW meraih Gold Level.
Dia menjelaskan bahwa sejak 2015, UKSW bermitra dengan BKKBN serta DP3APPKB melalui rangkaian riset dan program pengabdian masyarakat.
Pada 2025, UKSW memperluas perannya melalui pendampingan 20 anak stunting dengan dukungan pendanaan Rp54 juta dan pelibatan mahasiswa dari FISKOM, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK), dan Fakultas Psikologi.
“Hasil pendampingan inilah yang kemudian menjadi dasar lahirnya program lanjutan seperti Smart Farming Anti Stunting sejak akhir 2025 dan berlanjut hingga 2026,” jelasnya.
Kolaborasi Selamatkan Generasi
Undip Buka Layanan Keimigrasian, Kampus Pertama di Indonesia
Sementara itu, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji menegaskan bahwa penanganan stunting membutuhkan kerja bersama seluruh unsur pentahelix.
Stunting, menurutnya, hanya dapat memulihkan sekitar 20 persen sehingga pencegahan menjadi kunci utama.
Pemerintah menargetkan penurunan prevalensi dari 19,8 persen menjadi 18,8 persen pada 2025 dan 14 persen pada 2029 sesuai RPJMN.

