KENDAL, INIKAMPUS – Tim pengabdian Universitas Negeri Semarang (UNNES) mendampingi seniman muda Sanggar Ciptaning di Vila Siberi, Banjarejo Boja, Kendal, Jawa Tegah melalui pelatihan berbasis strategi SIMAK, baru-baru ini
Tim diketuai Sungging Widagdo, S.Pd., M.Pd., dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa FBS Unnes.
Anggota tim terdiri atas Prof. Dr. RM Teguh Supriyanto, M. Hum., Rahma Ari Widihastuti, S.Pd., M.A., Rimasari Pramesti Putri, S.Pd., M.Pd., Dr. Nur Hanifah Insani, S.Pd., M.Pd., Joko Wiyoso, S.Kar., M.Hum., dan Arif Fiyanto, S.Sn., M.Sn.,
Program ini melibatkan sekitar 20 seniman muda dengan dukungan seniman senior.
Pelatihan berlangsung setiap Kamis, pukul 15.00–17.30 WIB, di Sanggar Ciptaning.
“Materi kegiatan meliputi pengembangan sanggit atau penggubahan lakon wayang, cerita ketoprak, tembang macapat, seni tari, dan seni rupa,” ungkap Sungging Widagdo.
Sebelum pendampingan, menurut dia, pembelajaran lebih banyak mengandalkan metode lisan melalui kegiatan mendengarkan, menirukan, dan menghafal materi dari seniman senior.
Pewarisan untuk Menjaga Tradisi
Lebih lanjut dikemukakan, pola pewarisan tersebut berperan penting dalam menjaga tradisi, tetapi belum sepenuhnya membantu peserta memahami filosofi lakon, karakter tokoh, serta kosakata Jawa klasik.
“Akibatnya, sebagian seniman muda mengalami kesulitan mengembangkan cerita yang relevan dengan persoalan sosial kontemporer dan mudah dipahami generasi Z,” Rimasari Pramesti Putri.
Melalui strategi SIMAK (Semangat, Inovatif, Mandiri, Aktif, dan Kreatif), kata Rahma Ari Widihastuti, peserta didorong untuk lebih aktif dalam proses penciptaan karya.
“Mereka menganalisis persoalan dalam lakon, berdiskusi secara berkelompok, menelaah referensi, menyusun naskah, menyunting karya, menguji hasil, dan mengevaluasi prosesnya,” kata Rahma.
Pada bagian lain, Hanifah Nur Insani menyebutkan, sumber digital serta teknologi kecerdasan buatan (AI) turut dimanfaatkan sebagai bahan pendukung pengembangan gagasan.
“Pendekatan ini memberi ruang bagi peserta untuk tidak sekadar meniru praktik senior, tetapi juga memahami makna cerita dan mempertanggungjawabkan pilihan artistiknya,” katanya.
Nilai-nilai tradisi, menurut dia, tetap menjadi pijakan. “Sementara kreativitas digunakan untuk menghubungkan lakon dengan kehidupan masyarakat masa kini,” tandasnya.
Sementara itu Joko Wiyoso mengatakan, hasil observasi dan wawancara sebelum serta sesudah pelatihan menunjukkan perkembangan keterampilan peserta dalam mengembangkan sanggit lakon wayang dan ketoprak, menembangkan lagu Jawa, menari, serta melukis.
“Pemahaman terhadap teknik penulisan naskah, nilai filosofis lakon, dan konteks sosial cerita juga mengalami peningkatan,” katanya.
Aspek Sastra yang Baik
Prof. Teguh Supriyanto, ahli sastra yang terlibat dalam tim pengabdi, menilai naskah sanggit lakon karya peserta telah memenuhi aspek kesusastraan yang baik.
“Pengembangan ceritanya juga dinilai relevan dengan realitas kehidupan generasi masa kini,” katanya.
Pengelola Sanggar Ciptaning, Alam Tonggak Amarta Pascagerhana, turut mengapresiasi program tersebut.
“Pendampingan ini bermanfaat tidak hanya bagi peningkatan kompetensi seniman muda, tetapi juga bagi penguatan manajerial sanggar,” kata Alam.
Pembinaan berkelanjutan dipandang penting untuk mendukung regenerasi dan pelestarian kebudayaan Jawa.
Tim pengabdi bersama pengelola dan peserta pun menyepakati perlunya kelanjutan program dengan materi yang lebih beragam.
Rencana tindak lanjut mencakup pementasan di Sanggar Ciptaning, pemantapan tata kelola sanggar, serta pengembangan kesempatan pentas di luar sanggar yang berpotensi meningkatkan produktivitas ekonomi para seniman.
Meski demikian, keterbatasan waktu, tenaga, dan anggaran membuat pendampingan belum menjangkau seluruh seniman muda secara optimal.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pengelola sanggar, seniman senior, dan pemangku kepentingan kebudayaan diperlukan agar manfaat program dapat diperluas.
