oleh Prof. Dr. RM Teguh Supriyanto
1/ Sembah Adas
Esai ini saya dedikasikan kepada Kakanda Prof. Dr. Drs. Suminto A Sayuti, Guru Besar FBSB Universitas Negeri Yogyakarta. Tulisan didasarkan pada salah satu tulisan beliau di antara tulisannya yang relatif banyak.
Saya ambil dari puisi beliau sebagai referensi. Saya nukil dan pahatkan di buku saya, Sambang Rasa dalam Sastra: Meretas Belenggu Pasca-kolonial dalam Praktik Hegemoninya saat saya promosi guru besar saya di Universitas Negeri Semarang tahun 2014.
Bicara mengenai tubuh perempuan, acap kali kita berpikir tubuh sebagai objek yang selalu dikaitkan dengan kuasa, bahkan menjadi komoditas ekonomis. Meskipun secara tak terelakkan, itulah sebenarnya keindahan mahakarya Sang Ilahi. Namun, tubuh perempuan dalam teks sastra mengundang banyak tafsir, interpretasi yang dinamis, sejalan dengan dinamika dan berjalannya waktu, apalagi pada era digital ini.
Yang saya maksudkan adalah tubuh perempuan penari Jawa yang dihadirkan penyair dalam karyanya sebagaimana berikut.
Dari Bangsal Sri Manganti, Keraton Yogyakarta, Suatu Hari
selesai Sembur Adas lalu Pathetan
engkau pun ke pentas untuk sebuah peran hidup digelar lewat seblak sampur
dalam irama sampak dan kadang tlutur (orang-orang berjajar sekeliling bangsal ada Jawa, Cina, Belanda, dan Portugal
ada sorjan, celana pendek, dan t-sirt kumal ada wajah majikan, ada pula wajah gedibal)
engkau pun memintal jarak lewat untaian gerak makna pun terurai dalam langkah-langkah gemulai cinta-birahi dan rindu-dendam kemanusiaan terhidang di tengah bingkai keindahan
alun gending dan lembut tarian semua atas nama peradaban
selesai agun-agun lalu sembahan
engkau pun turut bagi sebuah penantian
sepotong kehidupan selesai dipanggungkan lalu gangsaran…
(di ruang ganti itu engkau bertanya:
ilan dan karawitan
atau paha terbuka dan dada tanpa beha).
Untuk menjelaskan puisi ini, saya memulai analisis dengan menggunakan teori strata norma dari Roman Ingarden, salah seorang tokoh New Criticism. Mengapa teori ini digunakan, meski Roman Ingarden dari Barat?
Ternyata teori ini membuka mata kita bahwa puisi karya Suminto menolak tradisi romantik dari Barat. Teori ini sejalan dengan topik membongkar romantikisme ala Indonesia (dalam hal ini kebudayaan Jawa). Dengan demikian, teori Barat Roman Ingarden dijadikan alat analisis ibarat keris Buta Cakil berperang tanding dengan Arjuna akibatnya Cakil mati karena kerisnya.
