Close Menu
  • Beranda
  • Berita
  • Agenda
  • Opini
  • Riset
  • Prestasi
  • Beasiswa
  • Profil
  • Insiprasi
  • iniKids
What's Hot

Ketika Tubuh Menjadi Teks Kebudayaan

5 November 2026

Tiga Dalang Muda Jateng Raih Prestasi di Festival Dalang Nasional

4 November 2026

Dalang Anak Asal Batang Anang Purbacarita Suguhkan Wayang Golek Cepak di Festival Nasional

4 November 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Beranda | Tentang Kami |  Redaksi |  Pedoman Media Siber |  Kebijakan Privasi  | Iklan dan Kerja Sama |  Layanan | Kontak
Facebook X (Twitter) Instagram
iniKampusiniKampus
  • Beranda
  • Berita
  • Agenda
  • Opini
  • Riset
  • Prestasi
  • Beasiswa
  • Profil
  • Insiprasi
  • iniKids
Donasi
iniKampusiniKampus
Beranda » Ketika Tubuh Menjadi Teks Kebudayaan
Opini

Ketika Tubuh Menjadi Teks Kebudayaan

adminBy admin5 November 2026Updated:5 November 2026Tidak ada komentar19 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Email LinkedIn Pinterest Copy Link
Prof. Dr. RM Teguh Supriyanto, M.Hum., Guru Besar Ilmu Sastra FBS Unnes
Share
Facebook Twitter WhatsApp Email Copy Link LinkedIn Pinterest

oleh Prof. Dr. RM Teguh Supriyanto

1/ Sembah Adas

Esai ini saya dedikasikan kepada Kakanda Prof. Dr. Drs. Suminto A Sayuti, Guru Besar FBSB Universitas Negeri Yogyakarta.  Tulisan didasarkan pada salah satu tulisan beliau di antara tulisannya yang relatif banyak.

Saya ambil dari puisi beliau sebagai referensi. Saya nukil dan pahatkan di buku saya, Sambang Rasa dalam Sastra: Meretas Belenggu Pasca-kolonial dalam Praktik Hegemoninya saat saya promosi guru besar saya di Universitas Negeri Semarang tahun 2014.

Bicara mengenai tubuh perempuan, acap kali kita berpikir tubuh sebagai objek yang selalu dikaitkan dengan kuasa, bahkan menjadi komoditas ekonomis. Meskipun secara tak terelakkan, itulah sebenarnya keindahan mahakarya Sang Ilahi. Namun, tubuh perempuan dalam teks sastra mengundang banyak tafsir, interpretasi yang dinamis, sejalan dengan dinamika dan berjalannya waktu, apalagi pada era digital ini.

Yang saya maksudkan adalah tubuh perempuan penari Jawa yang dihadirkan penyair dalam karyanya sebagaimana berikut.

Dari Bangsal Sri Manganti, Keraton Yogyakarta, Suatu Hari

selesai Sembur Adas lalu Pathetan

engkau pun ke pentas untuk sebuah peran hidup digelar lewat seblak sampur

dalam irama sampak dan kadang tlutur (orang-orang berjajar sekeliling bangsal ada Jawa, Cina, Belanda, dan Portugal

ada sorjan, celana pendek, dan t-sirt kumal ada wajah majikan, ada pula wajah gedibal)

engkau pun memintal jarak lewat untaian gerak makna pun terurai dalam langkah-langkah gemulai cinta-birahi dan rindu-dendam kemanusiaan terhidang di tengah bingkai keindahan

alun gending dan lembut tarian semua atas nama peradaban

selesai agun-agun lalu sembahan

engkau pun turut bagi sebuah penantian

sepotong kehidupan selesai dipanggungkan lalu gangsaran…

(di ruang ganti itu engkau bertanya:

ilan dan karawitan

atau paha terbuka dan dada tanpa beha).

Untuk menjelaskan puisi ini, saya memulai analisis dengan menggunakan teori strata norma dari Roman Ingarden, salah seorang tokoh New Criticism. Mengapa teori ini digunakan, meski Roman Ingarden dari Barat?

Ternyata teori ini membuka mata kita bahwa puisi karya Suminto menolak tradisi romantik dari Barat. Teori ini sejalan dengan topik membongkar romantikisme ala Indonesia (dalam hal ini kebudayaan Jawa). Dengan demikian, teori Barat Roman Ingarden dijadikan alat analisis ibarat keris Buta Cakil berperang tanding dengan Arjuna akibatnya Cakil mati karena kerisnya.

1 2 3 4 5
Prof. Teguh Supriyanto Suminto A Sayuti tubuh perempuan
Share. Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn Email Threads Copy Link

Konten Terkait

Dari Kresna ke BIPA

9 Oktober 2026

Bahasa Indonesia: Dari Ruang Kuliah ke Panggung Dunia

6 Oktober 2026

Saat AI Makin Pandai Menulis, Apa Perlunya Mata Kuliah Bahasa Indonesia?

1 Oktober 2026

Paradoks Indonesia: Kita Benar-benar Tangguh atau Hanya Terbiasa Bertahan?

14 Juni 2026
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Konten Terbaru

Ketika Tubuh Menjadi Teks Kebudayaan

5 November 2026

Tiga Dalang Muda Jateng Raih Prestasi di Festival Dalang Nasional

4 November 2026

Dalang Anak Asal Batang Anang Purbacarita Suguhkan Wayang Golek Cepak di Festival Nasional

4 November 2026

Bantu UMKM Lebih Dikenal, Mahasiswa KKN Unnes Pasang 14 Banner di Selomirah

31 Oktober 2026

Mahasiswa KKN Unnes Sosialisasikan Stunting di Posyandu Dusun Calombo

29 Oktober 2026

Langganan Informasi Terbaru

Dapatkan berita pendidikan terbaru dari Inikampus seputar pendidikan, beasiswa, dll

IniKampus adalah portal berita yang menyajikan informasi terkini seputar dunia pendidikan tinggi di Indonesia dan mancanegara. Kami hadir untuk menjadi referensi terpercaya bagi mahasiswa, dosen, akademisi, serta masyarakat umum yang peduli terhadap perkembangan sektor pendidikan.

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube

Ketika Tubuh Menjadi Teks Kebudayaan

5 November 2026

Tiga Dalang Muda Jateng Raih Prestasi di Festival Dalang Nasional

4 November 2026

Dalang Anak Asal Batang Anang Purbacarita Suguhkan Wayang Golek Cepak di Festival Nasional

4 November 2026

Langganan Informasi Terbaru

Dapatkan berita pendidikan terbaru dari Inikampus seputar pendidikan, beasiswa, dll

© 2026 IniKampus. Designed by Inikampus.
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Panduan Kolumnis
  • Kebijakan Privasi
  • Iklan
  • Layanan
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.