WELLINGTON, INIKAMPUS – Tembang Jawa, angklung, tari, dan wayang mewarnai kegiatan Weekday Indonesia di Arakura School, Wellington, Selandia Baru, Rabu (14/10/2026).
Tim Universitas Negeri Semarang (Unnes) memperkenalkan kesenian Indonesia kepada siswa melalui pertunjukan dan kegiatan yang mengajak mereka terlibat langsung.
Sekolah yang berada di lembah perbukitan itu menyambut rombongan dengan suasana sejuk dan jauh dari keramaian.
Bendera Merah Putih berkibar di depan gedung, mengiringi perjumpaan budaya Indonesia dengan komunitas sekolah.
Tim tiba pukul 10.15 dan menunggu 15 menit untuk pergantian kelas. Setelah akses dibuka, rombongan membawa gawangan portabel, wayang, serta angklung ke aula.
Angklung ditata di samping tempat duduk siswa, sementara perangkat pakeliran disiapkan dan dalang berganti busana.
Pukul 11.00, siswa memasuki aula, disusul para guru. Pertunjukan dibuka dengan tembang Umbul Donga “Ibu Pertiwi”.
Cakepannya menyuarakan rasa syukur atas pangan, sandang, dan rezeki, sekaligus mengajak manusia mengasihi sesama serta menjunjung keluhuran budi.
Workshop Angklung
Suasana kemudian beralih ke workshop angklung dari KBRI Wellington.
Siswa mendapat kesempatan mengenal permainan alat musik bambu tersebut.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan tari Pangpung sebelum memasuki sajian penutup wayang padat dengan iringan rekaman.
Pentas wayang menghadirkan petikan Brubuh Ngalengka, terutama bagian Kumbakarna Gugur dan Rahwana Gugur.
Pertempuran Rama Wijaya melawan Rahwana menjadi puncak sajian. Tepuk tangan meriah terdengar ketika adegan memperlihatkan Rahwana tertindih gunung.
Sepanjang pertunjukan, siswa menyimak dengan fokus. Ketika pertanyaan diajukan, mereka berlomba mengangkat tangan.
Antusiasme tersebut memperlihatkan bagaimana pertunjukan dapat membuka ruang belajar dan percakapan lintas budaya.
Arakura School juga menerima siswa berkebutuhan khusus. Kehadiran beragam siswa memberi makna pada kegiatan kesenian sebagai ruang perjumpaan bersama. Hubungan dengan Indonesia turut terasa melalui Dina, salah seorang guru yang pernah tinggal selama sembilan tahun di Semarang.
Dr. Widodo, M.Hum, anggota tim delegasi Unnes ke Selandia Baru mengemukakan, wayang dan angklung menjadi jembatan persaudaraan yang melampaui batas suku bangsa.
“Melalui cerita wayang dan kebersamaan memainkan angklung, masyarakat dunia dapat mengenal Indonesia yang ramah, terbuka, dan saling menghormati,” kata Widodo.
