SEMARANG, INIKAMPUS – Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY masih kekurangan 37.511 guru bahasa Jawa untuk berbagai jenjang pendidikan.
Koordinator Program Studi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra FBS Universitas Negeri Semarang (Unnes) Mujimin mengungkapkan hal itu, di kampus Sekaran, Senin (30/3/2026).
Angka tersebut, menurut dia, berdasarkan data Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
“Tidak hanya di jenjang SMP dan MTs, bahasa Jawa sudah lama menjadi pelajaran wajib di SMA dan SMK di Jateng, DIY, dan sebagian besar Jatim,” katanya.
Masih berdasarkan data Direktorat GTK, ungkap dia, kebutuhan terhadap guru bahasa daerah lainnya juga terbilang tinggi.
“Masih butuh 20.744 guru bahasa Sunda, 2.387 bahasa Bali, dan 1.680 bahasa Madura,” ujarnya.
Belum Bisa Segera Terpenuhi
Meski demikian, kebutuhan sebanyak itu diperkirakan tidak akan terpenuhi dalam waktu dekat ini.
“Ini karena keterbatasan perguruan tinggi dalam menerima dan meluluskan mahasiswa Pendidikan Bahasa Jawa maupun Sastra Jawa,” katanya.
Sebagai gambaran, S1 Pendidikan Bahasa Jawa Unnes tahun ini menerima 100 mahasiswa baru, sedangkan S1 Sastra Jawa menyediakan 40 kursi.
Selain itu, lanjut dia, pengangkatan guru sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS) ataupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) belum optimal.
“Namun yang menggembirakan, dalam beberapa tahun terakhir, perekrutan PPPK untuk formasi guru Bahasa Jawa selalu ada,” tandasnya.
Kebutuhan itu, menurutnya, belum termasuk lowongan di SMP/MTs dan SMA/SMK/MA swasta yang jumlahnya lebih banyak.
Pemilik Prodi Bahasa Jawa
Dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) yang pendaftarannya berlangsung 25 Maret – 7 April 2026, S1 Pendidikan Bahasa Jawa Unnes menyediakan 40 kuota.
Prodi S1 Sastra Jawa sedikit lagi, yakni 20 kursi.
Selain Unnes, kata Mujimin, PTN yang memiliki prodi Pendidikan Bahasa Jawa hanya UNS, UNY, dan Unesa.
PTN yang membuka prodi S1 Sastra Jawa adalah Unnes, UGM, UI, dan UNS.
Sementara itu, PTS yang membuka prodi yang sama adalah Univetbantara Sukoharjo, UPGRIS, UMP, Unwida Klaten, dan STKIP Ponorogo.
“Bila setiap perguruan tinggi menghasilkan 100 sarjana pendidikan ataupun sastra Jawa, perlu puluhan tahun untuk memenuhi kebutuhan ini,” katanya.

