UNGARAN, INIKAMPUS – Indeks vitalitas bahasa Jawa masuk dalam kategori rentan menuju kepunahan.
Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah Dwi Laily Sukmawati mengungkapkan hal itu dalam Seminar dan Sosialisasi Festival Taruna Bahasa Ibu, di Ungaran, Senin (12/05/2026).
Seminar merupakan hasil kerja sama Balai Bahasa dan MGMP Bahasa Jawa SMA/SMK Provinsi Jawa Tengah.
“Penentuan level itu berdasarkan hasil kajian vitalitas bahasa yang dilakukan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah tahun 2019,” ungkap Dwi Laily di hadapan 150 guru bahasa Jawa SMA- SMK.
Anak-anak dan kaum tua, lanjut dia, menggunakan bahasa Jawa tetapi jumlahnya sedikit.
“Karena itu, perlu revitalisasi bahasa Jawa, mulai dari koordinasi pakar, koordinasi pemda, bimbingan teknik guru SD-SMP, hingga Festival Tunas Bahasa Ibu,” katanya.
Perlu Mencari Solusi
Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I, Deyas Yani Rahmawan mengemukakan, forum ini untuk mengartikulasikan isu menurunnya penggunaan bahasa Jawa.
“Tak kalah pentingnya, mencari alternatif solusi atas masalah ini,” tandasnya.
Narasumber lainnya, Kasi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta, Setya Amrih Prasaja mengingatkan tentang penjaminan hak-hak linguistik bagi warga negara.
“Negara tidak boleh menghilangkan hak masyarakat untuk menggunakan bahasa aslinya sendiri,” tandas Amrih.
Tampil juga sebagai narasumber, Ketua Pengelola Nama Doman Internet Indonesia (PANDI), Muhammad Fauzi.
Adapun Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bahasa Jawa (MGMP) Jawa Tengah Triana Kanthiwati mengingatkan pentingnya upaya penguatan bahasa dan aksara Jawa.
“Secara simultan, upaya ini harus dilakukan di ingkungan sekolah, penguatan peran guru MGMP, dan dukungan pemerintah,” katanya.

