Esai Sungging Widagdo, Rahayu Pristiwati, dan Agus Nuryatin
ADA kalanya sebuah bangsa tidak perlu mengangkat senjata untuk memperkenalkan dirinya kepada dunia. Cukup dengan sebuah bahasa, sebuah cerita, dan seseorang yang bersedia menjadi jembatan.
Dalam jagat pewayangan Jawa, kita mengenal Kresna Duta. Ia datang ke Hastina bukan sebagai panglima perang, melainkan sebagai utusan Pandawa.
Di hadapannya berdiri Duryudana, penguasa yang telah menutup pintu negosiasi. Di antara keduanya terdapat kepentingan yang berlawanan, luka sejarah, ambisi kekuasaan, dan kemungkinan perang yang semakin dekat.
Namun, sebelum senjata berbicara, Kresna memilih kata-kata.
Datang Membawa Pesan Perdamaian
Dalam dramatika lakon Kresna Duta, inti persoalannya sederhana. Tetapi di balik kesederhanaan itu terdapat sesuatu yang sangat dalam.
Apakah konflik harus selalu diselesaikan dengan kekerasan? Pandawa masih menghendaki jalan damai. Mereka meminta haknya dikembalikan. Kresna kemudian menjadi duta untuk menyampaikan kehendak tersebut kepada Kurawa.
Kresna di dalam dialognya, menempatkan persoalan bukan sebagai ancaman. Ia menempatkannya sebagai kesempatan bagi kedua pihak untuk menghindari kehancuran.
Kepada Duryudana, ia menyampaikan gagasan bahwa perselisihan antara saudara tidak seharusnya berakhir dengan pertumpahan darah. Sebaliknya Duryudana teguh pendirian, tak akan menyerahkan apa yang telah dikuasainya.
Kresna kemudian memperhalus bujukannya. Ia tidak serta-merta meninggikan suara. Ia mengingatkan bahwa kerajaan, kekuasaan, dan harta pada akhirnya tidak sebanding dengan kehancuran yang akan ditimbulkan oleh perang.
, Duryudana tetap bergeming. Dialog itu akhirnya berubah menjadi perdebatan antara bahasa yang menawarkan jalan keluar dan kekuasaan yang menutup jalan keluar. Di situlah kita menemukan salah satu pelajaran penting dari wayang, bahasa dapat menjadi alat diplomasi sebelum menjadi alat pertikaian.
Kresna tidak datang sekadar untuk berbicara. Ia datang untuk mewakili. Kata-katanya bukan kata-kata pribadi. Ia membawa kepentingan Pandawa, membawa harapan untuk berdamai, sekaligus membawa pesan bahwa perang masih dapat dihindari.
Ia adalah seorang diplomat dalam pengertian yang paling sederhana. Seseorang yang menjembatani dua kepentingan yang sedang berjarak. Namun, diplomasi Kresna berujung kegagalan. Duryudana tidak bergeser. Jalan damai tertutup dan perang Baratayuda tak terhindarkan.
Ironisnya, justru kegagalan itulah yang membuat Kresna Duta penting untuk direnungkan. Diplomasi tidak selalu menghasilkan kesepakatan. Akan tetapi, diplomasi menunjukkan bahwa sebelum manusia memilih kekerasan, selalu ada kata untuk membuka kemungkinan berbicara.
Bahasa yang Menyeberangkan Kebudayaan
Dalam kehidupan modern, kita barangkali tidak lagi mengirim Kresna ke Hastina. Kita memiliki diplomat, kedutaan, konferensi internasional, pertukaran pelajar, pusat kebudayaan, dan berbagai forum antarbangsa. Tetapi prinsip dasarnya tetap sama, hubungan antarmanusia dibangun melalui bahasa.
Di sinilah kurikulum pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) memperoleh makna. Kurikulum BIPA memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar pengajaran kosakata, tata bahasa, membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. BIPA dapat menjadi salah satu bentuk diplomasi budaya Indonesia.
Bahasa tidak pernah benar-benar hanya berisi kata. Di balik kata terdapat cara manusia memandang dunia. Di balik ujaran terdapat etika. Di balik ungkapan terdapat nilai dan di balik percakapan terdapat hubungan sosial.
Seorang pemelajar asing yang belajar bahasa Indonesia mungkin pada awalnya hanya ingin dapat memperkenalkan diri. Nama saya Naruto. Saya berasal dari Jepang.
Namun, ketika pembelajaran berlanjut, ia akan menemukan bahwa bahasa Indonesia memiliki ungkapan yang tidak selalu dapat diterjemahkan secara harfiah. Ia bertemu dengan permisi, mohon maaf, terima kasih, silakan, mari, atau sudah makan? Di situlah bahasa mulai membuka pintu kebudayaan.
Pertanyaan “Sudah makan?”, misalnya, secara gramatikal merupakan pertanyaan sederhana. Tetapi dalam konteks sosial tertentu, pertanyaan tersebut dapat menjadi bentuk perhatian.
Demikian pula “Silakan” tidak sekadar memiliki arti please. Ia dapat mencerminkan sikap mempersilakan orang lain, memberikan ruang, dan menjaga relasi sosial. Dengan demikian, pemelajar BIPA sesungguhnya sedang belajar lebih daripada bahasa Indonesia. Ia sedang belajar cara masyarakat Indonesia berhubungan dengan sesamanya.
Persis seperti Kresna yang tidak hanya membawa kalimat kepada Duryudana, tetapi membawa nilai yang berada di balik kalimat itu. Nilai perdamaian, persaudaraan, keseimbangan, dan penyelesaian konflik yang ingin dia sampaikan melalui rembug kebangsaan.
Guru BIPA dan “Kresna-Kresna” Masa Kini
Jika Kresna adalah duta Pandawa, siapa duta Indonesia pada masa kini? Jawabannya tidak selalu harus seorang diplomat yang bekerja di gedung kedutaan. Seorang pengajar BIPA di sebuah universitas di Korea Selatan, Jepang, Australia, Jerman, atau negara lainnya juga dapat menjadi duta kebudayaan dalam ruang yang lebih kecil, tetapi justru lebih intim, di dalam ruang kelas.
Pengajar BIPA tidak membawa mandat politik. Ia tidak berpidato tentang keunggulan Indonesia. Ia tidak memaksa pemelajar asing untuk mencintai Indonesia. Ia hanya mengajarkan bahasa. Tetapi melalui bahasa itulah Indonesia perlahan hadir. Ketika guru BIPA menjelaskan mengapa orang Jawa mengenal unggah-ungguh, sesungguhnya yang diajarkan bukan semata-mata perubahan kosakata menurut tingkat tutur melainkan gagasan bahwa hubungan sosial memiliki etika. Ketika pemelajar membaca cerita rakyat, ia tidak hanya belajar struktur naratif tetapi berhadapan dengan nilai, imajinasi, dan pandangan hidup masyarakat.
Ketika pemelajar BIPA membaca naskah tentang wayang, mereka akan mengenal tokoh, konflik, dan filsafat kehidupan. Ketika mereka menyaksikan lakon Kresna Duta, mereka dapat menemukan bahwa masyarakat Jawa telah lama memiliki gagasan bahwa konflik perlu didahului dengan perundingan. Dengan demikian, pembelajaran bahasa berubah menjadi pembelajaran kebudayaan melalui pengalaman berbahasa.
Kajian mengenai BIPA menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa dan budaya tidak dapat dipisahkan. Pengintegrasian ekosistem budaya dalam kurikulum BIPA membantu pemelajar memahami bahasa dalam konteks sosialnya sekaligus mengembangkan kompetensi komunikatif lintas budaya. Oleh karena itu, kurikulum BIPA tidak semestinya hanya mengajarkan apa yang dikatakan, tetapi juga kepada siapa, dalam situasi apa, dengan cara bagaimana, dan mengapa sesuatu dituturkan. Pertanyaan terakhir itulah yang sering terlupakan.
Diplomasi Bukan Mengajari Orang Lain Menjadi Kita
Ada kekeliruan yang perlu dihindari ketika BIPA ditempatkan sebagai instrumen diplomasi budaya. Diplomasi budaya bukanlah upaya membuat orang asing menjadi “orang Indonesia” yang menghapus identitas aslinya. Diplomasi budaya juga bukan propaganda kebudayaan. Diplomasi yang sehat justru membuka ruang dialog.
Kresna tidak datang ke Hastina untuk menghapus identitas Kurawa. Ia datang untuk mencari titik temu. Demikian pula BIPA. Tujuannya bukan membuat pemelajar asing meninggalkan bahasa dan kebudayaannya. Sebaliknya, kurikulum pembelajaran BIPA seharusnya memungkinkan pemelajar memahami Indonesia sambil membandingkannya dengan kebudayaan mereka sendiri.
Ketika mahasiswa Jepang mempelajari konsep gotong royong, ia dapat membandingkannya dengan praktik kolektivitas dalam masyarakat Jepang. Ketika mahasiswa Australia mempelajari tradisi mudik, ia dapat mendiskusikannya dengan tradisi perjalanan keluarga dalam masyarakatnya.
Ketika mahasiswa Korea mempelajari sistem sapaan Indonesia, ia dapat membandingkannya dengan tingkat kesopanan dalam bahasa Korea. Di situlah terjadi diplomasi. Bukan, “Inilah Indonesia. Terimalah.” Melainkan, “Inilah Indonesia. Mari kita kenali. Lantas ceritakan pula kebudayaanmu.” Diplomasi budaya dengan demikian bukan monolog. Ia adalah dialog.
Wayang sebagai Kelas BIPA
Pada titik ini, wayang sesungguhnya dapat memperoleh fungsi baru. Ia tidak harus ditempatkan semata-mata sebagai warisan budaya yang diperlihatkan kepada wisatawan. Wayang dapat menjadi teks pedagogis untuk pembelajaran bahasa dan diplomasi budaya.
Bayangkan sebuah kelas BIPA tingkat lanjut. Guru memutar cuplikan lakon Kresna Duta. Di layar tampak Kresna berhadapan dengan Duryudana. Setelah menonton, guru bertanya, “Siapa yang sedang berbicara?”
“Siapa yang diwakili oleh Kresna?”
“Apa tujuan Kresna?”
“Mengapa Duryudana menolak?”
“Bagaimana cara Kresna meyakinkan lawan bicaranya?”
“Apakah strategi komunikasi Kresna dapat digunakan dalam kehidupan modern?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa pemelajar dari bahasa menuju budaya, dari budaya menuju nilai, dan dari nilai menuju refleksi lintas budaya. Bahkan fragmen dialog dapat dijadikan latihan pragmatik. Pemelajar dapat membandingkan ungkapan langsung dan tidak langsung, bentuk penghormatan, strategi membujuk, cara menyampaikan ketidaksetujuan, serta bagaimana menjaga muka lawan bicara. Dengan demikian, Kresna Duta bukan hanya cerita lama tentang Pandawa dan Kurawa. Ia menjadi laboratorium komunikasi.
Di dalamnya pemelajar dapat belajar asertif bahwa mengatakan “tidak” memiliki banyak cara. Menolak tidak selalu harus kasar. Membujuk tidak selalu harus memaksa. Mengkritik tidak selalu harus merendahkan. Bernegosiasi bukan berarti mengalah. Bukankah semua itu merupakan kompetensi yang juga diperlukan dalam komunikasi antarbangsa?
Dari Wayang ke Dunia Digital
Tantangan berikutnya adalah bagaimana membawa kekayaan semacam itu ke dalam ekosistem digital. Generasi pemelajar BIPA hari ini hidup dalam dunia video pendek, podcast, film, musik, game, media sosial, dan kecerdasan artifisial. Oleh karena itu, diplomasi bahasa tidak dapat terus-menerus bergantung kepada buku teks konvensional.
Fragmen Kresna Duta dapat diubah menjadi video pembelajaran. Dialog dapat diberi terjemahan interaktif. Pemelajar dapat memilih respons Kresna dalam sebuah simulasi negosiasi. Mereka dapat membandingkan cara menyampaikan keberatan dalam bahasa Indonesia dengan bahasa ibu mereka. Bahkan teknologi AI dapat digunakan untuk membuat simulasi percakapan lintas budaya, dengan tetap menempatkan guru sebagai pengarah dan penjaga konteks budaya. Di sinilah BIPA dapat bergerak dari language learning menuju cultural experience.
Pemelajar tidak sekadar menghafalkan bahwa gotong royong berarti mutual cooperation. Ia melihat masyarakat bekerja bersama. Ia tidak sekadar membaca definisi wayang. Ia menyaksikan pertunjukan. Ia tidak sekadar menghafalkan kata duta. Ia mengikuti perjalanan Kresna sebagai utusan dan memahami mengapa seorang utusan harus memiliki kecakapan berbicara, mendengar, membaca situasi, dan mengendalikan diri. Bahasa akhirnya menjadi pengalaman.
Diplomasi yang Tidak Berisik
Kita sering membayangkan diplomasi sebagai sesuatu yang besar. Diplomasi itu berupa perjanjian internasional, kunjungan kepala negara, konferensi dunia, atau perundingan di meja panjang. Padahal, diplomasi juga dapat berlangsung sangat sederhana.
Seorang mahasiswa asing mengucapkan, “Matur nuwun.” Seorang guru Indonesia menjawab, “Sami-sami.” Dua manusia yang berbeda bahasa telah menemukan satu ruang bersama. Mungkin kecil. Tetapi dari ruang kecil semacam itulah hubungan antarbangsa dibangun.
Kresna pernah berdiri di hadapan Duryudana dan mencoba menyelamatkan dunia dari perang melalui kata-kata. Ia gagal mengubah hati Duryudana. Namun kegagalannya tidak membuat diplomasi menjadi sia-sia. Ia justru meninggalkan pelajaran bahwa perdamaian harus selalu diberi kesempatan untuk berbicara. BIPA membawa semangat yang serupa ke zaman kita.
Jika Kresna dahulu membawa pesan Pandawa ke Hastina, maka pengajar BIPA hari ini membawa bahasa dan kebudayaan Indonesia melintasi batas negara. Jika Kresna menggunakan dialog untuk membuka kemungkinan perdamaian maka BIPA menggunakan bahasa untuk membuka kemungkinan pemahaman. Jika Kresna berdiri di antara dua pihak yang berbeda kepentingan maka pembelajaran BIPA mempertemukan dua kebudayaan yang berbeda pengalaman. Keduanya bertemu kepada satu keyakinan sederhana, sebelum manusia memahami bangsa lain, ia harus terlebih dahulu bersedia mendengarkan bahasanya.
Sudah saatnya kurikulum BIPA tidak hanya dipandang sebagai program pengajaran bahasa bagi orang asing. BIPA perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi diplomasi budaya Indonesia. Sebuah jalan yang lembut untuk memperkenalkan Indonesia melalui bahasa, sastra, seni, cerita, nilai, dan pengalaman hidup masyarakatnya.
Kita tidak perlu mengirim Kresna lagi. Kita cukup mengirim kata-kata. Sebab di tengah dunia yang semakin mudah berselisih, yang kita perlukan bukanlah suara yang semakin keras, melainkan bahasa yang mampu membuat manusia bersedia duduk bersama. Barangkali, di sebuah ruang kelas BIPA yang sederhana, seorang pemelajar asing yang sedang mengeja kalimat bahasa Indonesia sedang memulai perjalanan yang sama, dari sebuah kata, menuju sebuah kebudayaan, lalu menuju sebuah pemahaman. Di sanalah diplomasi bekerja, pelan, senyap, tetapi meninggalkan jejak yang panjang.
—Sungging Widagdo, mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Bahasa FBS Unnes; Dr. Rahayu Pristiwati, M.Pd. dan Prof. Dr. Agus Nuryatin, M.Hum., dosen Ilmu Pendidikan Bahasa S3 FBS Unnes.
