BAYANGKAN seorang mahasiswa mendapat tugas membuat esai. Belum sempat membuka laptop, ia sudah bisa meminta bantuan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Dalam hitungan detik, AI bisa membantu mencari ide, membuat kerangka tulisan, merangkum artikel, menerjemahkan teks, memperbaiki bahasa, bahkan menghasilkan tulisan yang tampak sangat akademis.
Pertanyaan yang cukup menggelitik, di tengah AI yang semakin pintar berbahasa, apakah pembelajaran Mata Kuliah Wajib Umum (MKU) Bahasa Indonesia di perguruan tinggi masih perlu?
Jawabannya, justru makin perlu!
Hanya, cara memandang pembelajaran Bahasa Indonesia perlu berubah. Mahasiswa tidak cukup hanya diajari kaidah ejaan, struktur kalimat, atau cara menulis sesuai dengan aturan. Lebih dari itu, mereka perlu dibekali kemampuan membaca secara kritis, menalar secara ilmiah, menyusun argumen, menggunakan sumber secara etis, serta memahami cara kerja teknologi digital.
Dengan kata lain, di era AI, Bahasa Indonesia bukan sekadar pelajaran tentang bahasa. Ia menjadi bekal untuk berpikir, menyusun pengetahuan, dan berkomunikasi secara bertanggung jawab.
Ketika AI Bisa Menulis Apa Saja
Tidak bisa dimungkiri, AI menawarkan banyak kemudahan. Mahasiswa dapat menggunakannya untuk mencari ide, menyusun kerangka tulisan, memperbaiki kalimat, menerjemahkan teks, atau mendapatkan umpan balik awal terhadap tulisan yang mereka buat.
Namun, di balik kemudahan itu terdapat persoalan yang tidak sederhana. AI bisa menghasilkan informasi yang keliru. Ia juga dapat menyajikan informasi yang bias atau bahkan mencantumkan sumber yang ternyata tidak pernah ada.
Jika mahasiswa menerima begitu saja setiap jawaban AI, mereka berisiko kehilangan kesempatan untuk belajar berpikir kritis.
Karena itu, pertanyaan dalam pembelajaran MKU Bahasa Indonesia kini tidak cukup berhenti pada “boleh atau tidak menggunakan AI?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Bagaimana menggunakan AI secara bertanggung jawab?”
Mahasiswa tetap harus mampu memeriksa sumber, membandingkan informasi, menguji argumen, melakukan parafrasa, menggunakan sitasi dengan benar, dan mempertanggungjawabkan setiap gagasan yang mereka tuliskan. Di sinilah pembelajaran Bahasa Indonesia menemukan relevansinya.
Bukan Musuh, melainkan Mitra Belajar
AI tidak harus ditempatkan sebagai musuh dalam pembelajaran. Sebaliknya, teknologi ini bisa menjadi objek sekaligus alat belajar.
Dosen, misalnya, dapat memberikan tulisan yang dihasilkan AI kepada mahasiswa. Mereka kemudian diminta mencari informasi yang meragukan, memeriksa sumber, menemukan kesalahan, memperbaiki tulisan, lalu menjelaskan alasan di balik setiap perbaikan.
Dengan cara seperti itu, mahasiswa tidak hanya belajar menggunakan AI. Mereka belajar bersikap kritis terhadap AI.
AI juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan brainstorming, menyunting bahasa, atau menawarkan beberapa alternatif struktur tulisan. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan mahasiswa.
Prinsipnya sederhana. AI boleh membantu berpikir, tetapi mahasiswa tetap harus berpikir.
Makalah sumber mengusulkan pembelajaran berbasis proyek melalui tahapan orientasi, eksplorasi, produksi, komunikasi, dan refleksi. Model ini relevan dengan pembelajaran di era AI karena mahasiswa tidak hanya dituntut menghasilkan tulisan.
Mereka juga harus melalui proses mencari sumber, memilah informasi, mengolah gagasan, menulis, mempresentasikan, dan merefleksikan penggunaan teknologi. Jadi, yang dinilai bukan hanya “apa yang dihasilkan”, melainkan juga bagaimana mahasiswa sampai pada hasil tersebut.
Perubahan Cara Menilai
Perkembangan AI juga memaksa perguruan tinggi memikirkan kembali cara melakukan asesmen.
Tugas seperti “buatlah esai 1.000 kata” kini semakin mudah dikerjakan dengan bantuan AI. Mahasiswa bahkan dapat memperoleh tulisan yang rapi hanya dalam beberapa detik.
Karena itu, penilaian tidak cukup hanya melihat produk akhir. Dosen perlu memberikan perhatian lebih besar pada proses berpikir mahasiswa.
Mahasiswa, misalnya, dapat diminta menyertakan kerangka tulisan, sumber yang digunakan, draf awal, hasil revisi, hingga catatan tentang bagaimana mereka memanfaatkan AI.
Dengan cara tersebut, dosen dapat melihat apakah mahasiswa benar-benar memahami gagasannya atau sekadar menyerahkan keluaran mesin.
Pendekatan ini sejalan dengan gagasan AI Assessment Scale, yang mengatur penggunaan AI berdasarkan tingkat keterlibatannya dalam suatu tugas. Dengan begitu, penggunaan AI tidak hanya dibingkai dalam pilihan sederhana “boleh” atau “dilarang”.
Pentingnya Manusia Memahami Bahasa
Di tengah perkembangan AI, muncul sebuah paradoks. Makin canggih mesin menghasilkan bahasa, kian penting manusia memahami bahasa. Sebab, bahasa bukan sekadar rangkaian kata.
Melalui bahasa, manusia membangun pengetahuan, menyusun argumentasi, menyampaikan gagasan, memengaruhi orang lain, sekaligus membangun hubungan sosial.
Di perguruan tinggi, mahasiswa membutuhkan kemampuan membaca secara kritis, menulis secara logis, berbicara secara efektif, dan menggunakan sumber secara etis.
Keempat kemampuan itu tetap menjadi fondasi penting, bahkan ketika teknologi terus berkembang.
Ada hal lain yang tak kalah penting. Bahasa Indonesia juga memiliki dimensi kebangsaan. Sejarah bahasa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sosial, budaya, pendidikan, dan pembentukan identitas Indonesia. Karena itu, perkembangan AI semestinya tidak membuat dimensi kebahasaan dan kebudayaan tersebut tersisih.
Justru sebaliknya, teknologi dapat menjadi momentum untuk kembali menegaskan mengapa manusia perlu menguasai bahasanya sendiri.
Menyiapkan, Tak Hanya Melarang
Perguruan tinggi kini menghadapi pilihan yang tidak sederhana. Melarang AI sepenuhnya mungkin terdengar mudah. Namun, mahasiswa hidup di tengah teknologi yang sudah menjadi bagian dari keseharian mereka.
Karena itu, paradigma pembelajaran perlu bergerak dari “melarang AI” menuju “mengajarkan penggunaan AI secara bertanggung jawab”.
Mahasiswa perlu memahami kapan AI dapat digunakan, kapan informasi yang dihasilkannya harus diverifikasi, bagaimana penggunaannya perlu diungkapkan, dan kapan sebuah tugas harus dikerjakan secara mandiri.
Pada saat yang sama, dosen juga perlu meningkatkan kompetensi digital. Tugas-tugas pembelajaran perlu dirancang sedemikian rupa sehingga tidak mudah diselesaikan hanya dengan menyalin keluaran AI.
Tugas berbasis pengalaman lokal, wawancara, analisis sumber, presentasi, observasi, dan refleksi dapat menjadi pilihan.
Dengan tugas semacam itu, mahasiswa tidak hanya diminta menghasilkan teks. Mereka juga dituntut menunjukkan pengalaman, proses berpikir, dan alasan di balik gagasannya.
Makalah sumber juga menekankan pentingnya transparansi penggunaan teknologi, verifikasi terhadap sumber primer, dokumentasi proses, dan tanggung jawab manusia atas keluaran AI.
Pada akhirnya, AI bukan pengganti pembelajaran Bahasa Indonesia. Sebaliknya, AI dapat menjadi momentum untuk memperkuat kembali tujuan utama pendidikan Bahasa, yakni membentuk mahasiswa yang mampu membaca secara kritis, berpikir logis, menulis dengan baik, berkomunikasi secara efektif, dan bertanggung jawab atas setiap gagasan yang disampaikannya.
Di dunia ketika mesin kian pandai menghasilkan kata-kata, perguruan tinggi justru perlu makin serius mengajarkan cara berpikir di balik kata-kata tersebut. Sebab, persoalan terbesar di era AI bukan lagi apakah mesin mampu menulis. Persoalannya adalah apakah manusia masih mampu berpikir sebelum menulis?
Di situlah tantangan sekaligus peluang pembelajaran MKU Bahasa Indonesia di era kecerdasan buatan.
–Nur Fateah, M.A., Mahasiswa Pascasarjana Prodi Ilmu Pendidikan Bahasa FBS Unnes.
