SEMARANG, INIKAMPUS – Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (Unnes) menggelar Bulan Bahasa dan Seni (BBS) 2026, Rabu (28/10).
Kegiatan berlangsung sejak pagi hingga tengah malam dengan menghadirkan beragam pertunjukan seni dan budaya.
Ketua Panitia BBS FBS UNNES, Prof. Yusro Edy Nugroho, mengatakan, kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus mengapresiasi kekayaan budaya Nusantara.
“Bulan Bahasa dan Seni menjadi momentum untuk mempertemukan kreativitas mahasiswa, kekayaan budaya Nusantara, dan semangat berkesenian di lingkungan kampus,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara Hari Sumpah Pemuda di Lapangan FBS Unnes pukul 07.00.
Selanjutnya, peserta mengikuti arak-arakan budaya dengan mengenakan busana tematik dan membawa alat musik atau bunyi-bunyian.
Rute arak-arakan melintasi sejumlah kawasan kampus Unnes sebelum kembali ke Dekanat FBS.
Dari Wayang Padat hingga Panggung Inagurasi
Pembukaan BBS menghadirkan pertunjukan tari, panembrama, dan puisi renungan.
Panitia juga menyerahkan Piala Rektor Festival Film Pendek Bahasa Jawa 2026.
Panggung budaya bakal menampilkan wayang padat berjudul Sastra Jendra: Tetesing Katresnan oleh Ki Salman Hilal, mahasiswa Sastra Jawa FBS Unnes, pukul 09.30–12.00.
Menurut Yusro, keterlibatan mahasiswa dalam berbagai pertunjukan memberi pengalaman berkesenian sekaligus kesempatan mengembangkan potensi artistik.
Setelah jeda siang, Panggung Inagurasi Program Studi berlangsung pukul 14.00–15.30.
Berbagai penampilan mewarnai acara ini, mulai dari monolog, peragaan busana, tari Kalang Sunda, modern dance, hingga tari tradisional Tiongkok.
Empat Mahasiswa Pentaskan Wayang Kulit
Sore hingga petang, panggung FBS Unnes menghadirkan pentas band mahasiswa.
Puncak kegiatan malam hari berupa pertunjukan wayang kulit dengan lakon Kikis Tunggarana, mulai pukul 20.15 hingga tengah malam.
Empat mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa, yakni Yudha Bagus Setiawan, Diva Setiandra Rara Rahmadani, Wahyu Pundhut Prasetyo, dan Danang Priadi, tampil sebagai dalang.
Yusro menilai keterlibatan mahasiswa sebagai pelaku seni penting untuk menghubungkan pembelajaran akademik dengan praktik pertunjukan.
Melalui BBS 2026, FBS Unnes memadukan pelestarian tradisi, eksplorasi kreativitas, dan pengembangan kompetensi seni mahasiswa. [Eka Farida]
