WONOSOBO, INIKAMPUS – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang (FMIPA UNNES) merampungkan program penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman pergerakan tanah akibat berbagai faktor, termasuk perubahan iklim.
Program bertajuk “Penguatan Kapasitas Masyarakat Menghadapi Ancaman Multi Bahaya Pergerakan Tanah yang Dipengaruhi Perubahan Iklim” itu menyasar Desa Pucungkerep, Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo.
Kegiatannya meliputi edukasi kebencanaan, pemetaan kerawanan tanah, dan pendampingan strategi mitigasi berbasis lingkungan.
Kepada iniKampus.id, Ketua Tim Pengabdian Drs. Ngurah Made DP, M.Si., Ph.D. mengatakan,wilayah perbukitan Kecamatan Kaliwiro menghadapi ancaman pergerakan tanah yang dapat membahayakan warga, permukiman, jalan desa, dan lahan pertanian.
“Lereng yang curam, tingginya curah hujan, serta perubahan pola hujan akibat perubahan iklim turut meningkatkan kerawanan kawasan tersebut,” katanya, Rabu (22/10/2026) .
Menurut dia, masyarakat yang tinggal di daerah rawan perlu mengenali tanda-tanda awal pergerakan tanah dan memahami langkah mitigasi yang tepat.
Tim pengabdian terdiri atas dosen lintas disiplin FMIPA Unnes, yakni Dr. Drs. M. Aryono Adhi, M.Si, Prof. Dr. Sutikno, M.T., Dr. Langlang Handayani, M.App.Sc,; Fianti, S.Si., M.Sc., Ph.D., dan Dr. Slamet Haryono, M.Sn.
Pemetaan dan Edukasi Masyarakat
Kegiatan diawali dengan koordinasi antara tim Unnes, Bappeda, BPBD, dan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Wonosobo, serta Pemerintah Kecamatan Kaliwiro dan para kepala desa pada April 2026.
Koordinasi tersebut menghasilkan kesepakatan untuk menyurvei tiga desa yang terdampak parah pergerakan tanah, yaitu Pucungkerep, Medono, dan Lamuk.
Berdasarkan hasil peninjauan bersama, tim menetapkan Desa Pucungkerep sebagai lokasi utama pengabdian.
Koordinasi lanjutan dengan kepala desa dan para kepala dusun kemudian mengarahkan kegiatan pada pemetaan kawasan rawan serta penyusunan strategi penanggulangan dan pemberdayaan masyarakat terdampak.
Pelaksanaan program juga melibatkan mahasiswa aktif dan alumni Unnes.
“Keterlibatan berbagai pihak menjadi dasar penting untuk menghubungkan kajian ilmiah dengan kebutuhan mitigasi di tingkat desa,” ujar Dr. M. Aryono Adhi.
Pada Mei 2026, tim menggelar sosialisasi dan edukasi melalui penyuluhan serta diskusi interaktif bersama masyarakat.
Materinya mencakupi penyebab dan mekanisme pergerakan tanah, hubungan perubahan iklim dengan risiko longsor, tanda-tanda awal kerawanan lereng, serta prinsip mitigasi dan kesiapsiagaan berbasis masyarakat.
“Edukasi ini diarahkan agar masyarakat lebih peka terhadap gejala seperti retakan tanah, perubahan aliran air, dan kondisi lereng yang berpotensi membahayakan lingkungan tempat tinggal,” kata Prof. Dr. Sutikno.
Salah satu capaian utama program tersebut ialah tersusunnya peta kerawanan tanah bergerak.
