Kehadiran peserta lintas kampus ini menunjukkan luasnya perhatian akademik terhadap isu keberagamaan di era digital.
Pilar Transformasi Digital
Rektor UIN Walisongo, Musahadi, dalam keynote speech menegaskan, tema “mencandera” memiliki makna strategis dalam memahami perubahan zaman.
“Mencandera menjadi kata kunci penting karena terkait dengan kemampuan kita dalam memahami perubahan, menganalisisnya, sekaligus menentukan posisi kita di dalamnya,” ungkap Musahadi.
Ia menjelaskan, transformasi digital ditopang oleh tiga pilar utama, yakni internet of things, big data, dan kecerdasan buatan, yang telah menghadirkan disrupsi di hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam praktik keberagamaan.
Musahadi juga memperkenalkan konsep “fikih prasmanan” sebagai fenomena baru dalam praktik keagamaan di era digital.
“Di dunia digital, siapa pun bisa berbicara tentang agama tanpa otoritas keilmuan yang jelas. Ini berbeda dengan tradisi keilmuan Islam yang berbasis pada isnad. Fenomena ini melahirkan apa yang saya sebut sebagai fikih prasmanan,” jelas Musahadi.
Ia menekankan, dunia maya kini menjadi the new marketplace bagi pertarungan gagasan keagamaan.
“Karena itu, ADP dan para akademisi harus lebih intens hadir di ruang digital untuk menawarkan wacana keagamaan yang damai dan berorientasi pada rahmatan lil alamin. Tanpa itu, masyarakat bisa dengan mudah tersesat dalam arus informasi yang tidak terverifikasi,” tegasnya.
Seminar juga menghadirkan Prof. Dr. Akhmad Taufiq (Universitas Jember), Eko Ernada M.A. (UNU Kalimantan Timur), Prof. Dr. Aksin Wijaya (IAIN Ponorogo), Prof. Dr. Ida Umami (UIN Siwo Jurai), dan Prof. Dr. Syamsul Ma’arif (UIN Walisongo).
Kepada iniKampus id, Wakil Sekretaris Umumm ADP Ali Formen mengungkapkan, para narasumber membahas isu-isu krusial seperti fragmentasi otoritas keagamaan, krisis literasi keagamaan digital, hingga pentingnya rekonstruksi pemikiran Islam berbasis keadilan, kesetaraan, dan keberlanjutan ekologis.

