SEMARANG, INIKAMPUS – Problem kehumasan Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), sebagaimana terlihat dari publikasi-publikasinya, bukan terletak pada kekurangan bahan.
Persoalannya, justru pada bagaimana mengolah bahan yang melimpah itu menjadi cerita yang mempunyai daya tarik bagi publik.
Pemimpin Umum iniKampus.id, Dr. Sucipto Hadi Purnomo, mengungkapkan hal itu pada Workshop Kehumasan di Universitas Muhammadiyah Semarang, Senin (20/09/2026) lalu.
“Mengapa kampus yang memiliki banyak kegiatan belum tentu menjadi kampus yang banyak dibicarakan?” tanya Sucipto mengawali paparannya.
Sebaliknya, lanjut dia, ada kampus yang kegiatannya biasa saja, tetapi beritanya luar biasa.
Berpikir seperti Newsroom
Dosen Komunikasi Seni Program Doktor Pendidikan Seni Fakultas Bahasa dan Seni Unnes itu mengingatkan, humas harus berpikir seperti newsroom.
“Keberhasilan humas bukan terutama karena berapa banyak press release yang dibuat, melainkan berapa banyak cerita yang berhasil ditemukan dan dikembangkan,” ungkap mantan humas perguruan tinggi terbaik se-Indonesia itu.
Mantan Kepala Humas Universitas Negeri Semarang itu lantas menceritakan pengalamannya menghadirkan kisah seorang wisudawan terbaik Unnes yang merupakan anak tukang becak dan datang ke wisuda dengan becak yang dikayuh ayahnya, beberapa tahun silam.
“Yang membuat berita itu bukan gelar wisudawan terbaiknya. Yang membuatnya menjadi cerita adalah relasi antara prestasi, perjuangan, dan simbol becak,” ujar Sucipto.
Anggota Tim Evaluasi Kinerja Perguruan Tinggi Kemendiktisaintek itu lantas mempertanyakan kondisi di Unimus.
“Berapa banyak Raeni yang sebenarnya dimiliki Unimus? Ini yang mestinya secara jeli digali dan digarap oleh humas,” katanya.
Dalam forum yang dipandu Kepala Kantor Unimus Dr. M. Rully Sjahirul A, S.E., M.M. itu Sucipto mencontohkan cara berpikir lama versus cara berpikir newsroom.
“Cara berpikir lama, ‘Rektor menghadiri acara.’ Sebaliknya, cara berpikir newsroom, ‘Apa yang dikatakan Rektor yang penting bagi publik?”
Sucipto juga mencontohkan cara berpikir lama yang memberitakan sekadar mahasiswa juara.
“Cara berpikir newsroom akan menggali dan menyajikan apa dan bagaimana perjuangan mahasiswa dalam meraih gelar tersebut,” katanya di hadapan para humas universitas, fakultas, dan program studi tersebut.
