SEMARANG, INIKAMPUS – Ema Jelita Sari, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa FBS Universitas Negeri Semarang (UNNES), berhasil mempertahankan karya tulis akhir.
Ia mempertahankan karyanya pada Jumat, 14 Agustus 2026, di hadapan tim penguji.
Karya tersebut berjudul “Kritik Sosial Wong Cilik dalam Wayang Animasi Petruk Dadi Ratu Ki Seno Nugroho”.
Tim penguji terdiri atas Dr. Ucik Fuadhiyah, Mujimin, M.Pd., dan Dr. Sucipto Hadi Purnomo yang sekaligus pembimbing.
Selanjutnya, karya tulis tersebut akan dimuat dalam jurnal ilmiah terakreditasi Sinta 3.
Kritik terhadap Ketimpangan Kekuasaan
Penelitian Ema berangkat dari perubahan fungsi wayang dalam perkembangan media digital.
Menurut kajiannya, wayang kini memiliki ruang lebih terbuka untuk menyampaikan kritik sosial.
Kritik tersebut terutama menyasar ketimpangan kekuasaan dan marginalisasi wong cilik.
Karena itu, Ema mengkaji animasi wayang kulit Petruk Dadi Ratu oleh Ki Seno Nugroho.
Ia menggunakan metode kualitatif deskriptif analisis melalui observasi video dan dokumentasi adegan-dialog.
Selanjutnya, ia menganalisis struktur cerita, dialog, serta representasi visual dalam animasi tersebut.
Humor dan Satire sebagai Strategi Kritik
Ema menggunakan pendekatan sosiologi sastra Alan Swingewood untuk membaca kritik sosial.
Pendekatan tersebut memandang karya sastra sebagai refleksi sekaligus kritik terhadap realitas sosial.
Hasil penelitian menunjukkan transformasi kritik sosial dalam animasi Petruk Dadi Ratu.
“Wayang tetap menjalankan fungsi kritik, tetapi animasi menyampaikannya secara lebih eksplisit,” ungkapnya.
Selain itu, animasi mengubah struktur kekuasaan dan menggugat legitimasi kelompok elite.
“Kritik tersebut muncul melalui humor, satire, serta strategi tuturan dalam dialog,” tandasnya.
Petruk Dadi Ratu, lanjut dia, menunjukkan kemampuan wayang beradaptasi dengan ekosistem digital.
“Transformasi tersebut sekaligus memperluas ruang kritik terhadap relasi kuasa dan ketimpangan sosial,” tambah Ema.

