KAZAKHSTAN, INIKAMPUS – Dari kebun pegunungan Jawa Tengah, aroma kopi menempuh perjalanan jauh menuju jantung Asia Tengah.
Di Astana, Kazakhstan, aroma itu mengundang perhatian melalui sesi coffee cupping pada Astana Coffee Expo 2026.
Nalendra, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang (UNNES), membawa kopi tersebut ke panggung internasional.
Ia memperkenalkan Nestra Coffee, startup binaan PUI PT Pascapanen Kopi dan Rempah (CoSpice) UNNES.
Ajang berlangsung pada 3–5 September 2026 di EXPO International Exhibition Center, Astana.
Melalui Nestra Coffee, Nalendra memperkenalkan Kopi Jawa Tengah yang mengusung konsep Volcano Coffee.
Konsep tersebut mengangkat cerita kopi dari kawasan pegunungan dengan karakter geografis dan lingkungan vulkanik.
Menguji Selera Pasar Kazakhstan
Nalendra tidak sekadar membawa kopi untuk dipamerkan kepada masyarakat Kazakhstan.
Ia juga mengajak peserta mencicipi dan mengevaluasi karakter kopi melalui sesi coffee cupping.
Peserta mencermati aroma, flavor, keasaman, body, aftertaste, dan keseimbangan rasa.
Interaksi tersebut sekaligus membantu Nestra Coffee membaca preferensi calon konsumen di Kazakhstan.
Dari proses itu, Nalendra menemukan kecenderungan konsumen Kazakhstan menyukai kopi dengan tingkat sangrai medium.
Profil tersebut menghasilkan rasa yang lebih lembut dan relatif mudah diterima konsumen.
Temuan itu kemudian menjadi masukan untuk menentukan profil roasting dan pengembangan produk.
Selain itu, hasil tersebut dapat membantu Nestra Coffee menyusun strategi branding dan pemasaran.
Kopi dengan Cerita dari Pegunungan
Melalui Volcano Coffee, Nestra Coffee tidak hanya menawarkan cita rasa.
Mereka juga membawa cerita tentang petani, pegunungan, tanah vulkanik, varietas, dan proses pascapanen.
Narasi tersebut memperkuat identitas asal atau origin branding kopi Jawa Tengah.
Sebab, pasar global makin memperhatikan asal produk, keterlacakan, keberlanjutan, dan cerita petani.
Karena itu, kopi Jawa Tengah hadir bukan sekadar sebagai komoditas pertanian.
Kopi juga hadir sebagai produk budaya dan ekonomi yang memiliki cerita dari wilayah asalnya.
Nalendra membawa peran yang lebih luas sebagai mahasiswa sekaligus petani muda.
Ia menghubungkan pengetahuan akademik, praktik pertanian, kewirausahaan, dan kebutuhan pasar.
Dari Kampus Menuju Pasar Global
Keterlibatan Nalendra juga menunjukkan peran perguruan tinggi dalam mendorong hilirisasi komoditas pertanian.
Melalui ekosistem CoSpice, mahasiswa memperoleh ruang untuk mengembangkan kualitas, inovasi, produk, dan akses pasar.
Nestra Coffee kemudian menjadi salah satu wadah pengembangan potensi tersebut.
Prosesnya tidak berhenti pada panen biji kopi dari kebun.
Nilai tambah muncul melalui quality control, pascapanen, roasting, kemasan, storytelling, dan pemasaran.
Pengalaman di Astana memperlihatkan pentingnya mempertemukan kualitas produk dengan pemahaman terhadap pasar.
“Petani muda harus memahami bahwa kopi bukan hanya tentang menghasilkan biji kopi,” kata Nalendra.
Menurut dia, petani juga perlu menciptakan nilai dan memperkenalkan produknya kepada konsumen.
Petani Muda dan Semangat SDG 8
Kehadiran Nalendra di Astana Coffee Expo juga berkaitan dengan semangat Sustainable Development Goal (SDG) 8.
Agenda tersebut mendorong pekerjaan layak, kewirausahaan, produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Melalui kopi, Nalendra mempertemukan petani muda, mahasiswa, akademisi, startup, pelaku usaha, dan konsumen internasional.
Pertemuan itu menunjukkan bahwa regenerasi petani dapat berjalan melalui pendidikan, teknologi, inovasi, dan kewirausahaan.
Pada saat yang sama, Kazakhstan membuka ruang perkenalan kopi Jawa Tengah di kawasan Asia Tengah.
Bagi Nalendra, perjalanan tersebut bukan sekadar membawa kopi ke luar negeri.
Ia membawa cerita tentang petani muda yang mulai menghubungkan kebun, kampus, bisnis, dan pasar global.
“Tidak berhenti sebagai bahan baku, tetapi dikembangkan melalui quality control, roasting, branding, dan market validation,” ujarnya.
Ia menambahkan, proses tersebut juga membuka peluang pengembangan pasar hingga ekspor.
Perjalanan kopi Jawa Tengah ke Astana membawa pesan tentang nilai tambah dan regenerasi petani.
Dari kebun di lereng pegunungan, kopi kini menemukan ruang baru di pasar Eurasia.
