SABAH, MALAYSIA – Tim Universitas Negeri Semarang (UNNES) menyelenggarakan Akselerasi Pendidikan Berkualitas melalui Pengembangan STEM Deep Learning Berbasis Computational Problem Solving bagi Guru Sekolah Indonesia di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia.
Kegiatan berlangsung di Community Learning Centre (CLC) Keningau, Sabah 18 Juli 2026.
Sebanyak 50 guru dari tujuh Community Learning Centre (CLC) di wilayah Sabah mengikuti acar tersebut.
Program ini menjadi wadah penguatan kompetensi guru dalam mengimplementasikan pembelajaran abad ke-21 yang inovatif, kontekstual, dan berorientasi pada pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi.
Ketua Kelompok Kerja Guru (KKG) Keningau, Saryanto, S.Pd., menyampaikan apresiasi atas kepedulian perguruan tinggi terhadap peningkatan kualitas guru Sekolah Indonesia di Sabah.
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Budi Astuti, M.Sc., menegaskan, penguatan kompetensi guru melalui pendekatan STEM Deep Learning merupakan salah satu strategi untuk mendukung akselerasi pendidikan berkualitas sekaligus mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan era transformasi digital.
Menuju Pembelajaran Bermakna
Pada sesi pelatihan, Prof. Dr. Sugianto,M.Si. menyampaikan materi mengenai STEM Deep Learning.
“Konsep Deep Learning tidak hanya berfokus pada penguasaan materi, tetapi juga pada pembelajaran yang bermakna melalui pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah,” jelas Prof. Sugianto.
Pendekatan STEM dipaparkannya sebagai strategi pembelajaran yang mengintegrasikan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika secara utuh, sehingga mampu membangun pengalaman belajar yang autentik dan relevan dengan kehidupan nyata peserta didik.
Sugiyanto, S.Pd., M.Si. menyampaikan pengembangan STEM Deep Learning berbasis Computational Problem Solving (CPS).
Peserta dikenalkan pada tahapan penyelesaian masalah secara komputasional, mulai dari dekomposisi masalah, pengenalan pola, abstraksi, hingga perancangan algoritma yang terintegrasikan dalam pembelajaran STEM.
Melalui pendekatan tersebut, guru didorong untuk merancang aktivitas pembelajaran yang tidak hanya menumbuhkan kemampuan berpikir logis dan sistematis, tetapi juga membangun kemampuan peserta didik dalam menemukan solusi kreatif terhadap berbagai permasalahan kontekstual.
Dr. Agus Yulianto, M.Si. memaparkan pentingnya integrasi local wisdom dalam pembelajaran sains sebagai upaya menjaga identitas budaya sekaligus meningkatkan relevansi pembelajaran.
Berbagai contoh penerapan kearifan lokal dalam pembelajaran IPA diperkenalkan agar konsep-konsep sains dapat dipahami melalui fenomena yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Prof. Dr. Putut Marwoto, M.S. menutup rangkaian materi dengan pembahasan mengenai publikasi karya ilmiah berbasis inovasi pembelajaran.
Dia memandu peserta menyusun laporan best practice, penelitian tindakan kelas, hingga strategi menulis artikel ilmiah yang dapat dipublikasikan pada jurnal maupun prosiding.
Tim pengabdian juga menyerahkan alat peraga matematika kepada Ketua KKG Keningau Sabah.
“Bantuan ini sebagai bentuk dukungan terhadap implementasi pembelajaran yang lebih interaktif di masing-masing CLC.”
Dalam kegiatan pengabdian ini juga ditandatangani implementation of arrangement (IA) antara Fakultas Matematika dan Ilmu Pengatahuan Alam Universitas Negeri Senarang (UUNES) dan Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, Sabah Malaysia.

