“Sayangnya, mereka hanya menjual pepaya dalam kondisi segar, sementara dari kebun produksi ke pasar kabupaten dan provinsi harus menempuh 3-6 jam. Itu karena jalan raya tidak mulus, berkontur, dan kendaraan pengangkut hasil panen relatif mahal,” ungkapnya.
Di sisi lain, kata Farida, pepaya merupakan buah tropis yang memiliki sifat perishable, yakni mengandung banyak air, mudah rusak, cepat busuk, dan tidak dapat disimpan lama.
Duh, Tunjangan Guru Non-ASN Termasuk Delapan Program Pendidikan Tak Terdanai di 2026
“Akibatnya, buah tersebut tersebut seringkali ketika tiba di pasar dan atau di tangan konsumen sudah tidak segar lagi, sehingga jatuh harga jualnya dan petani sulit mendapat keuntungan, bahkan cenderung rugi,” ungkap Farida Iriani lagi.
Hilirisasi Industri Pangan
Program pengabdian itu merupakan kegiatan hilirisasi industri pangan.
Kegiatan berawal dengan arahan ketua kelompok petani Banyumuli untuk merekrut tenaga tambahan, terutama usia muda, untuk ikut pelatihan agar terampil membuat formula produk olahan buah pepaya.

Barulah tim UICM melatih cara mengelola buah pepaya segar menjadi selai dan sirup dengan empat varian rasa.
Adapun pembuatan formula permen jeli akan menjadi agenda pelatihan pada kegiatan berikutnya.
Sebelumnya, tim UICM melakukan beberapa kali kegiatan uji formula bertahap atas ketiga jenis produk olahan tersebut di Laboratorium Kimia UICM, Kota Bandung.
Setelah diperoleh formula yang stabil, tahan simpan, dan disukai konsumen, formula terbaik yang diperoleh diterapkan kepada para peserta pelatihan.
Respons Warga
Pada bagian lain, antusiasme warga sangat tinggi.
Hilman, mantan Kepala Desa Bojong, yang hadir pada pelatihan mengusulkan setiap rumah di desanya menanam minimal dua pohon pepaya.
“Dengan begitu, warga dapat memproduksi secara berkelanjutan dan olahan pepaya menjadi ciri khas produk lokal Bojong,” katanya.
Selain itu, peserta lainnya terinspirasi untuk menerapkan konsep hilirisasi pangan dengan mengolah hasil panennya menjadi produk olahan.
Dengan begitu, distribusi lebih mudah dan jaringan pemasaran makin luas.
Rencananya kegiatan berikutnya akan berlangsung akhir September 2025.
“Selain melatih pembuatan permen jeli, tim akan merancang teknik dan strategi pemasaran melalui media sosial,” pungkas Ketua Tim Pengabdian.
Tim juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kemendiktisaintek yang telah memberikan hibah pendanaan program BIMA melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat anggaran 2025 sehingga seluruh kegiatan pengabdian ini terdanai.

