Pada Juni–Juli 2026, tim melakukan pengukuran mikroseismik dan geolistrik di Desa Pucungkerep selama sekitar satu bulan sebagai dasar penyusunan peta.
Hasilnya berupa peta kerawanan tanah untuk dua dusun yang dinilai paling rawan, yakni Dusun Krandegan dan Dusun Purwo.
“Informasi spasial ini menjadi bahan penting untuk mengenali wilayah yang memerlukan perhatian dalam perencanaan mitigasi bencana,” ungkap Fianti.
Kembangkan Mitigasi Berbasis Alam
Sebagai tindak lanjut pemetaan, tim menyelenggarakan pelatihan mitigasi pergerakan tanah bagi masyarakat Desa Pucungkerep pada 15–16 Agustus 2026.
“Lokakarya ini bertujuan membangun pemahaman bersama mengenai pilihan strategi mitigasi yang efektif dan realistis diterapkan,” ujar Dr. Slamet Haryono.
Pelatihan tersebut membahas pendekatan mitigasi berbasis alam, termasuk pemanfaatan bahan alami dan vegetasi untuk mendukung pengurangan risiko bencana.
Pendekatan ini juga menekankan pentingnya menjaga lingkungan dan kestabilan lereng secara berkelanjutan.
Kajian mengenai strategi mitigasi berbasis alam tersebut turut dipresentasikan dalam International Conference Greenova I 2026. Artikel ilmiahnya telah diterbitkan dalam IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, volume 1671, nomor 1.
“Kegiatan pengabdian ini sekaligus menjadi sarana untuk menghubungkan kajian akademik dengan upaya mitigasi yang dibutuhkan masyarakat setempat,” pungkas Dr. Langlang Handayani.
