Ia juga menemukan kebutuhan peserta didik terhadap media digital interaktif. Siswa menginginkan pembelajaran yang demokratis dan reflektif.
Selain itu, siswa membutuhkan contoh konkret produk proyek sejak awal pembelajaran. Mereka juga menghendaki penilaian yang holistik.
Integrasikan Deep Learning
Alfiah mengembangkan model dengan lima tahapan utama. Tahapan itu meliputi orientasi masalah, perencanaan proyek, investigasi, pengembangan produk, serta presentasi dan refleksi.
Model tersebut mengintegrasikan prinsip Project-Based Learning dengan deep learning. Pendekatan itu menekankan pembelajaran mindful, meaningful, dan joyful.
“Model ini mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi,” jelas alumnus S2 Pendidikan Bahasa UNS ini.
Ia juga memasukkan nilai budaya Jawa dalam pembelajaran. Nilai itu meliputi pocapan, patrap, dan polatan.
Selain itu, model memanfaatkan platform digital kolaboratif. Siswa kemudian menghasilkan produk budaya berbasis website dan video.
Efektif Tingkatkan Kompetensi
Alfiah menguji model pada 132 siswa di empat sekolah. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan nilai belajar yang signifikan.
Nilai rata-rata siswa naik dari 74 menjadi 91,42. Penelitian juga menghasilkan effect size sebesar 1,45 dengan kategori sangat besar.
“Model ini efektif mengembangkan kompetensi holistik dan karakter cinta budaya Jawa,” tegas Alfiah.
Ia mencatat peningkatan keterampilan berpikir kritis mencapai 86,60 persen. Kreativitas siswa meningkat hingga 89,69 persen.
Selain itu, kemampuan komunikasi mencapai 87,63 persen. Keterampilan kolaborasi siswa juga meningkat menjadi 88,66 persen.
Beri Rekomendasi
Alfiah meminta guru menerapkan pembelajaran kolaboratif secara demokratis. Ia juga mendorong guru menggunakan umpan balik dialogis dan refleksi terstruktur.
Selanjutnya, ia meminta sekolah memperkuat infrastruktur digital pembelajaran. Sekolah juga perlu membangun kemitraan dengan komunitas budaya lokal.
Selain itu, Alfiah meminta pemerintah mendukung pelatihan guru secara berkelanjutan. Ia juga mendorong pengembangan platform digital pembelajaran bahasa daerah.
“Pembelajaran bahasa daerah membutuhkan dukungan ekosistem yang berkelanjutan,” pungkas Alfiah.

