oleh Ali Formen
TAHUN ini saya dan istri berkesempatan pergi berhaji ke Tanah Suci. Dini hari 1 Mei 2026 lalu, pesawat kami mulai bergerak. Pilot membacakan talbiyah. Sebagian kami terdengar turut membacanya. Yang lain menirukannya dalam diam. Labbaikallahumma labbaik—aku datang, Ya Allah. Terima kasih telah menungguku.
Saya raih tangan istri saya, membisikkan doa, menahan napas, dan air mata. Ada ketegangan spiritual yang sulit dijelaskan, seolah-olah tubuh dan batin sedang bersiap memasuki ruang makna yang lain.
Beberapa jam sebelum momen ketegangan spiritual tadi, kami para jamaah saling berbisik. Tentang bagaimana naik pesawat, tentang doa mana yang harus dibaca, tentang banyak hal.
Bagi sebagian kami, naik haji adalah juga kali pertama dan mungkin kali terakhir naik pesawat. Kali pertama pula membaca tiket. Bagi sebagian kami pula, perjalanan ini juga mungkin perjalanan paling tertib dari segi tuntutan agama.
Betapa banyak di antara kita yang saat mendapati tempat duduk di kendaraan umum, segera kita mengempaskan tubuh kita ke kursi penumpang. Tapi malam itu lain. Kami ingin semua berjalan sesuai dengan tuntutan yang kami pelajari selama berminggu-minggu dengan pembimbing.
Kami menginvestasikan waktu dan uang yang tidak sedikit guna memastikan kami cukup literate untuk mengakses dan meresapi untaian doa untuk setiap momen dari ritus haji kami.
Spektrum Luas Literasi
Pengalaman ini membawa saya pada satu refleksi sederhana: haji bukan hanya ritual, melainkan juga sebuah ruang literasi yang sangat kaya.
Selama ini, literasi sering dipahami secara sempit sebagai kemampuan membaca dan menulis. Namun, dalam praktik sosial dan keagamaan seperti haji, literasi hadir dalam spektrum yang jauh lebih luas. Haji adalah titik picu sekaligus titik distribusi beragam literasi.
Tak berlebihan untuk menyebutnya sebagai hub yang melaluinya berbagai jenis literasi bertemu, beredar, dan dipraktikkan secara intens.

