Salah satu umbi-umbian yang mengalami peningkatan produksi dan olahannya adalah umbi porang.
Porang memiliki nilai ekonomis tinggi karena kandungan glukomanannya.
Glukomanan yang berasal dari ekstraksi umbi porang bermanfaat sebagai pengental, pengemulsi, penstabil, dan agen pembentuk gel.
Pemanfaatan porang dalam industri pangan, farmasi, kosmetik, dan kimia.
Permintaan meningkat
Komoditas porang atau dikenal dengan iles-iles mengalami kenaikan popularitas belakangan ini, namun sebenarnya keberadaan tanaman porang di Indonesia sudah ada sejak zaman nenek moyang.
Awal pandemi Covid-19, komoditas porang mulai meningkat permintaannya.
Harga beras shirataki yang mengandung glukomanan pada saat pandemi Covid-19 memiliki harga lebih dari Rp 200 ribu per kilogram.
Pada saat itu, harga umbi porang di Kabupaten Madiun mencapai Rp 15.000 per kg dan di daerah sentra produksi lainnya kurang dari harga tersebut.
“Pengembangan agroindustri porang tidak hanya memberikan keuntungan finansial yang signifikan, namun juga menciptakan peluang diversifikasi produk, peningkatan kesejahteraan petani, dan berkontribusi terhadap nilai ekspor nasional,” terang Prof. Erlyna.
Prof. Hartono mengingatkan kepada para guru besar yang baru agar menggunakan kepakarannya untuk berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan.
Dia berharap, para guru besar terus berdedikasi dan berkomitmen dalam menghasilkan karya ilmiah terbaik di bidang masing-masing. (*)

