SEMARANG, INIKAMPUS -Bagaimana jika Ki Wangsit Winursita, dalang muda sekaligus putra Ki Sigit Ariyanto, melontarkan kritik tajam kepada ayahnya di hadapan publik?
Itu yang mengemuka dalam acara Sarasehan Selasa Legen ke-128 bertajuk “Dari Tradisi Lisan ke Panggung Pertunjukan”, di Kampung Budaya Universitas Negeri Semarang, Senin (31/8/2026).
Bukan kritik untuk menjatuhkan, Wangsit justru mempertanyakan bagaimana sebuah lakon dapat tetap relevan dengan zaman.
Dialog ayah dan anak tersebut menjadi bagian menarik dalam sarasehan yang dihadiri dosen, penggiat budaya, dan mahasiswa.
Selain sarasehan, kegiatan juga dimeriahkan pertunjukan ketoprak lakon Rebut Mendut: Geger Pati, Dumadine Gunungpati.
Mempertanyakan Lakon sang Ayah
Wangsit mengawali pandangannya dengan mengakui sosok Ki Sigid sebagai seniman yang mampu menempatkan diri secara proporsional.
“Saya merasa Bapak itu seorang seniman yang adil. Dia tahu porsi,” ujar mahasiswa semester S1 Perfilman ISI Surakarta itu.
Namun sebagai generasi muda, ia mengaku terkadang mempertanyakan relevansi lakon yang dibawakan sang ayah dengan relevansinya di zaman sekarang. Salah satunya ketika Ki Sigid membawakan lakon Semar Mbangun Kayangan.
“Saya kadang-kadang juga gemes. Bendina lakone Semar Mbangun Kayangan (Setiap hari lakonnya Semar Mbangun Kayangan). Apa sih, Pak, relevansine dengan cah-cah ? Memang mereka membutuhkan Semar Mbangun Kayangan?” tutur Wangsit.
Pertanyaan tersebut kemudian dijawab Ki Sigid dengan sederhana.
“Lho, lah kui sing jaluk sing nanggap (Lha itu yang meminta yang nanggap),” jawab Ki Sigid.
Jawaban tersebut menjadi refleksi bagi Wangsit bahwa seorang seniman tidak selalu dapat memaksakan idealisme artistiknya sendiri.
”Ada konteks pertunjukan, penonton, dan kebutuhan masyarakat yang harus diperhatikan.
Ki Sigit kemudian menimpali dengan candaan yang sekaligus menjadi sindiran kepada putranya. “Ya Semar Mbangun Kayangan iki sing isa nguliyahke kowe (Ya Semar Mbangun Kayangan ini yang bisa menguliahkan kamu),” ujarnya.
Dialog tersebut memperlihatkan bahwa perbedaan pandangan antara keduanya bukan menjadi pertentangan, melainkan bagian dari proses bertukar gagasan mengenai kesenian dan relevansi tradisi.
Sanggit sebagai Jembatan Zaman
Ki Sigit Ariyanto menjelaskan, kehidupan manusia memiliki pola yang terus berulang sebagaimana konsep cakra manggilingan.
Menurutnya, kisah masa lalu dapat kembali hadir pada masa sekarang dengan nama, tokoh, dan bentuk yang berbeda, tetapi memiliki persoalan dasar yang serupa.
Menurut Ki Sigit, sanggit menjadi jembatan antara pakem dan zaman. Dalang tidak sekadar menceritakan kembali lakon, tetapi perlu menentukan tema, menyusun konflik, dan menyesuaikan cara bertutur dengan konteks penonton.
“Yang lama adalah ceritanya, tetapi persoalan manusianya selalu baru,” ujar Ki Sigid Ariyanto.
Ia mencontohkan lakon Pandawa Tani yang memuat petuah, doa, dan tradisi lisan dalam kehidupan bertani.
Nilai-nilai tersebut dapat ditafsirkan kembali agar sesuai dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Ki Sigid juga menekankan konsep empan papan, yaitu kemampuan dalang menyesuaikan pertunjukan dengan tempat, situasi, dan penonton.
“Tradisi harus terus berbicara. Dalang bukan sekadar penjaga cerita masa lalu, tetapi penafsir tradisi, penjaga zaman, dan penyambung percakapan antargenerasi,” tegas mahasiswa S3 Pendidikan Seni FBS Unnes itu.
[Eka Farida]
