Close Menu
  • Beranda
  • Berita
  • Agenda
  • Opini
  • Riset
  • Prestasi
  • Beasiswa
  • Profil
  • Insiprasi
  • iniKids
What's Hot

Begini Kritik untuk Dalang Sigid Ariyanto dari Anaknya Sendiri di Sarasehan

1 September 2026

Turnamen Tenis LLDIKTI VI 2026 Perkuat Silaturahmi dan Kolaborasi Perguruan Tinggi Jawa Tengah

1 September 2026

Kemendiktisaintek Sosialisasikan Program Bantuan Modul Digital bagi Dosen dan Tendik

31 Agustus 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Beranda | Tentang Kami |  Redaksi |  Pedoman Media Siber |  Kebijakan Privasi  | Iklan dan Kerja Sama |  Layanan | Kontak
Facebook X (Twitter) Instagram
iniKampusiniKampus
  • Beranda
  • Berita
  • Agenda
  • Opini
  • Riset
  • Prestasi
  • Beasiswa
  • Profil
  • Insiprasi
  • iniKids
Donasi
iniKampusiniKampus
Beranda » Begini Kritik untuk Dalang Sigid Ariyanto dari Anaknya Sendiri di Sarasehan
Berita

Begini Kritik untuk Dalang Sigid Ariyanto dari Anaknya Sendiri di Sarasehan

adminBy admin1 September 2026Updated:1 September 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Email LinkedIn Pinterest Copy Link
KI Wangsit Winursito dan Ki Sigid Ariyanto
Share
Facebook Twitter WhatsApp Email Copy Link LinkedIn Pinterest

SEMARANG, INIKAMPUS -Bagaimana jika Ki Wangsit Winursita, dalang muda sekaligus putra Ki Sigit Ariyanto, melontarkan kritik tajam kepada ayahnya di hadapan publik?

Itu yang mengemuka dalam acara Sarasehan Selasa Legen ke-128 bertajuk “Dari Tradisi Lisan ke Panggung Pertunjukan”, di Kampung Budaya Universitas Negeri Semarang, Senin (31/8/2026).

Bukan kritik untuk menjatuhkan, Wangsit justru mempertanyakan bagaimana sebuah lakon dapat tetap relevan dengan zaman.

Dialog ayah dan anak tersebut menjadi bagian menarik dalam sarasehan yang dihadiri dosen, penggiat budaya, dan mahasiswa.

Selain sarasehan, kegiatan juga dimeriahkan pertunjukan ketoprak lakon Rebut Mendut: Geger Pati, Dumadine Gunungpati.

Mempertanyakan Lakon sang Ayah

Wangsit mengawali pandangannya dengan mengakui sosok Ki Sigid sebagai seniman yang mampu menempatkan diri secara proporsional.

“Saya merasa Bapak itu seorang seniman yang adil. Dia tahu porsi,” ujar mahasiswa semester S1 Perfilman ISI Surakarta itu.

Namun sebagai generasi muda, ia mengaku terkadang mempertanyakan relevansi lakon yang dibawakan sang ayah dengan relevansinya di zaman sekarang. Salah satunya ketika Ki Sigid membawakan lakon Semar Mbangun Kayangan.

“Saya kadang-kadang juga gemes. Bendina lakone Semar Mbangun Kayangan (Setiap hari lakonnya Semar Mbangun Kayangan). Apa sih, Pak, relevansine dengan cah-cah ? Memang mereka membutuhkan Semar Mbangun Kayangan?” tutur Wangsit.

Pertanyaan tersebut kemudian dijawab Ki Sigid dengan sederhana.

“Lho, lah kui sing jaluk sing nanggap (Lha itu yang meminta yang nanggap),” jawab Ki Sigid.

Jawaban tersebut menjadi refleksi bagi Wangsit bahwa seorang seniman tidak selalu dapat memaksakan idealisme artistiknya sendiri.

”Ada konteks pertunjukan, penonton, dan kebutuhan masyarakat yang harus diperhatikan.

Ki Sigit kemudian menimpali dengan candaan yang sekaligus menjadi sindiran kepada putranya. “Ya Semar Mbangun Kayangan iki sing isa nguliyahke kowe (Ya Semar Mbangun Kayangan ini yang bisa menguliahkan kamu),” ujarnya.

Dialog tersebut memperlihatkan bahwa perbedaan pandangan antara keduanya bukan menjadi pertentangan, melainkan bagian dari proses bertukar gagasan mengenai kesenian dan relevansi tradisi.

Sanggit sebagai Jembatan Zaman

Ki Sigit Ariyanto menjelaskan, kehidupan manusia memiliki pola yang terus berulang sebagaimana konsep cakra manggilingan.

Menurutnya, kisah masa lalu dapat kembali hadir pada masa sekarang dengan nama, tokoh, dan bentuk yang berbeda, tetapi memiliki persoalan dasar yang serupa.

Menurut Ki Sigit, sanggit menjadi jembatan antara pakem dan zaman. Dalang tidak sekadar menceritakan kembali lakon, tetapi perlu menentukan tema, menyusun konflik, dan menyesuaikan cara bertutur dengan konteks penonton.

“Yang lama adalah ceritanya, tetapi persoalan manusianya selalu baru,” ujar Ki Sigid Ariyanto.

Ia mencontohkan lakon Pandawa Tani yang memuat petuah, doa, dan tradisi lisan dalam kehidupan bertani.

Nilai-nilai tersebut dapat ditafsirkan kembali agar sesuai dengan kehidupan masyarakat saat ini.

Ki Sigid juga menekankan konsep empan papan, yaitu kemampuan dalang menyesuaikan pertunjukan dengan tempat, situasi, dan penonton.

“Tradisi harus terus berbicara. Dalang bukan sekadar penjaga cerita masa lalu, tetapi penafsir tradisi, penjaga zaman, dan penyambung percakapan antargenerasi,” tegas mahasiswa S3 Pendidikan Seni FBS Unnes itu.

[Eka Farida]

Ki Sigid Ariyanto Ki Wangsit Winursito
Share. Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn Email Threads Copy Link

Konten Terkait

Turnamen Tenis LLDIKTI VI 2026 Perkuat Silaturahmi dan Kolaborasi Perguruan Tinggi Jawa Tengah

1 September 2026

Kemendiktisaintek Sosialisasikan Program Bantuan Modul Digital bagi Dosen dan Tendik

31 Agustus 2026

Mahasiswa Giat Unnes Dorong UMKM Desa Tulung Naik Kelas

28 Agustus 2026

Digitalisasi Ketoprak Dorong Sanggar Rompok Seni Brotosejati Tingkatkan Produksi Naskah dan Konten Kreatif

21 Agustus 2026
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Konten Terbaru

Begini Kritik untuk Dalang Sigid Ariyanto dari Anaknya Sendiri di Sarasehan

1 September 2026

Turnamen Tenis LLDIKTI VI 2026 Perkuat Silaturahmi dan Kolaborasi Perguruan Tinggi Jawa Tengah

1 September 2026

Kemendiktisaintek Sosialisasikan Program Bantuan Modul Digital bagi Dosen dan Tendik

31 Agustus 2026

Mahasiswa Giat Unnes Dorong UMKM Desa Tulung Naik Kelas

28 Agustus 2026

Digitalisasi Ketoprak Dorong Sanggar Rompok Seni Brotosejati Tingkatkan Produksi Naskah dan Konten Kreatif

21 Agustus 2026

Langganan Informasi Terbaru

Dapatkan berita pendidikan terbaru dari Inikampus seputar pendidikan, beasiswa, dll

IniKampus adalah portal berita yang menyajikan informasi terkini seputar dunia pendidikan tinggi di Indonesia dan mancanegara. Kami hadir untuk menjadi referensi terpercaya bagi mahasiswa, dosen, akademisi, serta masyarakat umum yang peduli terhadap perkembangan sektor pendidikan.

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube

Begini Kritik untuk Dalang Sigid Ariyanto dari Anaknya Sendiri di Sarasehan

1 September 2026

Turnamen Tenis LLDIKTI VI 2026 Perkuat Silaturahmi dan Kolaborasi Perguruan Tinggi Jawa Tengah

1 September 2026

Kemendiktisaintek Sosialisasikan Program Bantuan Modul Digital bagi Dosen dan Tendik

31 Agustus 2026

Langganan Informasi Terbaru

Dapatkan berita pendidikan terbaru dari Inikampus seputar pendidikan, beasiswa, dll

© 2026 IniKampus. Designed by Inikampus.
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Panduan Kolumnis
  • Kebijakan Privasi
  • Iklan
  • Layanan
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.