SUZHOU CINA, INIKAMPUS – Ungkapan “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina” ternyata relate dengan perjalanan Puspita Dewi, dosen Politeknik Perkeretaapian Indonesia (PPIM) Madiun.
Ia terpilih sebagai wakil Indonesia dalam “Southeast Asia ‘Smart Railway’ China Training Course” di Suzhou, Cina, 6 – 20 Agustus 2025.
Pelatihan ini sepenuhnya dengan dana Pemerintah Cina dan peserta dari Laos, Myanmar, dan Indonesia.
Pelatihan bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam mengimplementasikan sistem smart railway (kereta pintar) di Asia Tenggara.
Peserta mendapatkan pengetahuan terbaru tentang teknologi kereta api pintar, manajemen infrastruktur, dan solusi inovatif untuk transportasi massal yang efisien.
“Ini kesempatan emas untuk mempelajari langsung perkembangan kereta api Cina yang dikenal sebagai paling maju di dunia,” ujar Puspita Dewi, dosen PPIM di bawah Kementerian Perhubungan, dari Suzhou.
Harapannya, ilmu ini bisa ia terapkan di Indonesia.
Selain Puspita, terdapat empat wakil Indonesia dengan beragam latar belakang di bidang transportasi dan perencanaan pembangunan.
Ada Naomi Massang Lolok dari Direktorat Prasarana Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan.
Bergabung pula, Meilisa Garnisia dari Direktorat Prasarana Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan.
Adapun Leysi Maharani merupakan peserta dari Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Selain itu, Zaharatul Hasanah dari Kementerian PPN/Bappenas.
Kolaborasi antarinstansi ini diharapkan menghasilkan sinergi dalam percepatan pembangunan kereta api Indonesia.
Dukungan Cina dan Target Pembangunan KAI
Pemerintah Cina, melalui pelatihan ini, menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan transportasi berkelanjutan di Asia Tenggara.
Sementara itu, Indonesia terus memperluas jaringan kereta api dengan target 10.524 km pada 2030, termasuk rencana perluasan kereta cepat Jakarta-Bandung hingga Surabaya.
“Pelatihan ini sejalan dengan visi pemerintah untuk meningkatkan pangsa moda kereta api, baik untuk penumpang maupun barang, guna mengurangi kemacetan dan emisi karbon,” ungkap Garnisia Meilisa dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) kepada iniKampus.id.
Sejalan dengan itu, para peserta juga bertekad membawa pulang praktik terbaik dari China.
Misalnya integrasi Artificial Intelligence (AI), Big Data, dan sistem otomasi dalam pengoperasian kereta api.
“Dengan semangat “Smart Railway for Southeast Asia”, pelatihan ini diharapkan menjadi batu loncatan menuju kereta api Indonesia yang lebih canggih, efisien, dan berkelas dunia.” Pungkas Puspita.

