Selanjutnya, mereka bisa untuk bersama-sama merancang langkah konkret dalam menjadikan Desa Pudakpayung sebagai destinasi wisata unggulan berbasis digital.
“Melalui FGD ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk lebih mengenal strategi promosi yang relevan di era digital,” kata Sukma.
“Banyak potensi desa wisata yang sebenarnya mampu bersaing, tetapi masih kurang dikenal karena belum optimal dalam hal pemasaran online,” imbuhnya.
Interaktif
Diskusi berlangsung interaktif, membahas berbagai tantangan yang dihadapi desa wisata dalam promosi.
Selain itu, mereka juga membahas peluang penggunaan media sosial, seperti Instagram, Facebook, Tiktok dan Whatsapp Business, sebagai alat pemasaran yang efektif dan murah.
Mahasiswa juga memfasilitasi diskusi tentang pentingnya pembuatan konten visual, branding, dan menjangkau pasar lebih luas melalui platform digital.
Kegiatan FGD ini mencerminkan kepedulian generasi muda terhadap pemberdayaan masyarakat desa melalui pendekatan edukatif dan aplikatif.
Di sisi lain, FGD menjadi langkah awal dalam menciptakan ekosistem UMKM digital yang berkelanjutan di Desa Pudakpayung. (*)

