Sidang ke-8 CCSCH ini merupakan kelanjutan upaya global Codex Alimentarius Commission dalam menyusun standar internasional untuk rempah dan bumbu kuliner.
Targetnya, menjamin keamanan pangan, perlindungan konsumen, dan kelancaran perdagangan global.
Miranti menegaskan, standardisasi pascapanen rempah merupakan kunci agar produk Indonesia diterima sekaligus diakui dalam pasar global.
“Forum ini memberi ruang penting bagi kita untuk memperjuangkan kualitas dan identitas rempah-rempah Indonesia,” katanya.
Kehadiran kembali Eka Yuli Astuti dari Unnes dalam forum ini menjadi bukti konsistensi dan peran aktif perguruan tinggi dalam diplomasi ilmiah.
Setelah turut serta dalam CCSCH ke-7, partisipasi kali ini menunjukkan dunia akademik mampu menjadi mitra strategis pemerintah dalam arena internasional.
Sebagai akademisi dan peneliti rempah, Dr. Eka menyoroti pentingnya pendekatan berbasis riset dalam penyusunan standar mutu, khususnya dalam pascapanen.
“Standar internasional harus mencerminkan realitas lokal. Dengan data ilmiah dan pendekatan berbasis lapangan, kita bisa memperjuangkan agar standar global tetap relevan dan adil bagi petani Indonesia,” ujarnya.
Perjuangan untuk Cinnamon dan Vanila
Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen utama kayu manis dan vanila dunia.
Namun, kedua komoditas ini masih menghadapi tantangan besar, seperti standar ekspor yang ketat, isu kontaminasi, serta kurangnya nilai tambah di dalam negeri.
Dengan menjadi co-chair untuk Cinnamon dan aktif di EWG vanilla, Indonesia memiliki posisi strategis untuk memastikan standar Codex tidak merugikan pelaku usaha dan petani local.
Selain itu, meningkatkan daya saing produk rempah di pasar global dan mendorong keberlanjutan dan nilai tambah dalam rantai pasok.
Eka Yuli menandaskan, diplomasi teknis ini merupakan langkah nyata untuk memperjuangkan kepentingan ekonomi dan sosial.
“Kayu manis dan vanila bukan hanya komoditas dagang, tetapi juga warisan budaya dan ekonomi yang harus kita lindungi,” tegasnya.
Sejalan dengan SDGs
Keterlibatan Indonesia dalam forum tersebut juga berkait erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs).
Partisipasi ini mendukung beberapa target utama, seperti SDG 2 – Zero Hunger: meningkatkan mutu dan keamanan pangan global.
Di samping itu, SDG 8 – Decent Work and Economic Growth: mendorong ekspor bernilai tinggi dari sektor pertanian.
Adapun SDG 9 – Industry, Innovation, and Infrastructure: mendukung inovasi teknologi pascapanen dan industrialisasi local.
Kemudian SDG 12 – Responsible Consumption and Production: pengelolaan sumber daya rempah secara berkelanjutan.
Juga SDG 17 – Partnerships for the Goals: memperkuat kerja sama internasional dan multisector.
Sebagai universitas berwawasan konservasi dan bereputasi internasional, Unnes melalui PUI-PT Pascapanen Kopi dan Rempah telah lama fokus pada penelitian dan pengembangan di bidang rempah, khususnya pascapanen dan kualitas produk.
Keterlibatan di forum Codex menjadi bentuk konkret kontribusi Unnes dalam knowledge-based diplomacy, yakni diplomasi berbasis pengetahuan dan riset ilmiah.

