“Pengelolaan sampah harus mulai dari rumah tangga dan berlanjut di bank sampah. Ini akan mengurangi beban pengelolaan sampah kota dan memberikan nilai ekonomi kepada masyarakat,” kata Nuswowati.
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan 40 persen dari 70 juta ton sampah nasional per tahun berasal dari rumah tangga.
Pengelolaan yang tepat di tingkat komunitas dapat mengurangi beban secara signifikan.
Dampak Langsung ke Masyarakat
Abdul Jabbar, Ketua Tim Pengabdi, menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari tridarma perguruan tinggi untuk memberikan dampak nyata kepada masyarakat.
Wow, Gaji Awal Guru di Negara Kadipaten Ini Tembus Rp 1,5 Miliar per Tahun
“Pengabdian ini adalah bagian dari tridarma perguruan tinggi, sehingga kami merancang program ini berdampak langsung kepada masyarakat,” kata Jabbar.
Program ini juga melibatkan generasi muda dalam pengelolaan sampah rumah tangga.
Trida Ridho Fariz, anggota tim pengabdi, mendorong partisipasi kaum muda dalam inovasi pengelolaan sampah menggunakan teknologi digital.
Data SIPSN menunjukkan, baru 38,63 persen sampah nasional yang berhasil dikelola dengan baik hingga 2024.
Sisanya, 61,37 persen tidak terkelola dengan baik.
Di Semarang, meski sudah ada 497 bank sampah terdaftar, tidak semua beroperasi optimal.
Keterbatasan pengetahuan manajemen dan kurangnya inovasi pengolahan sampah menjadi kendala utama.
Program pendampingan berkelanjutan seperti oleh tim UNNES ini penting untuk meningkatkan kapasitas pengelola bank sampah dalam melayani masyarakat.
Kegiatan pelatihan team building dan kader lingkungan ini menjadi langkah konkret untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kota Semarang.
Tim berharap program ini dapat menjadi model replikasi untuk wilayah lain di Indonesia.

