SURAKARTA, INIKAMPUS – Ucik Fuadhiyah meraih gelar doktor berkat disertasi “Seksualitas dan Erotisme dalam Puisi Jawa Modern (Geguritan: Dari Tabu Menuju Terang”.
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu mempertahankan karyanya di Fakultas Ilmu Budaya UNS Surakarta, Kamis 22 Januari 2026.
Sidang promosi menghadirkan penguji Prof. Suwardi Endraswara, Prof. Sahid Teguh Widodo, Prof. RM Teguh Supriyanto, Prof. Wakit Abdullah, dan Prof. Andrik Purwasito selaku promotor.
Selain itu, Dekan FIB Dr. Dwi Susanto menjadi ketua tim penguji dan Koordinator Prodi Kajian Budaya S3 Prof. Sri Kusumo Habsari sebagai sekretaris penguji.
Ucik yang juga sastrawati Jawa itu meneliti buku-buku kumpulan puisi Jawa oleh para penggurit pada rentang 1940 – 2020.
Dia mengemukakan, selama ini pembahasan mengenai seks dan seksualitas selalu merujuk pada aktivitas biologis yang melibatkan relasi laki-laki dan perempuan
“Selain itu, seksualitas berkaitan dengan kepuasan nafsu berahi atau reproduksi. Tidak bersifat tunggal tetapi mencakupi berbagai variasi dan jenis ekspresi yang melibatkan tubuh,” katanya.
Seks sebagai Hubungan Spiritual
Dia menemukan, seks dan seksualitas selalu hiperealitas, namun dalam puisi Jawa modern, seks dan seksualitas sebagai wujud hubungan cinta dan reproduksi yang bersifat spiritual.
“Dalam konteks ini, seks, seksualitas, dan segala hal yang menyertainya adalah salah satu aktivitas reproduksi yang mengarah pada religiusitas,” tulisnya dalam ringkasan disertasi.
Para penyair Jawa, menurutnya, mempertahankan ideologi seks dan seksualitas yang indah dan sakral sebagai hubungan yang berada dalam relasi formal, terikat pernikahan, dan heterogen.
Dia juga menyimpulkan, seksualitas di tengah masyarakat sering menjadi penanda atau alat kuasa gender tertentu, lebih-lebih pada masyarakat dengan budaya patriarki yang kuat.
“Di sisi lain, ekspoitasi seks (terutama pada perempuan) sebagai komoditas akibat kondisi atau relasi kuasa (rezim) tertentu menjadikan masyarakat memandang seks sebagai barang konsumsi belaka. Akibatnya, tidak memiliki nilai sakral, indah, dan magis lagi,” tulisnya.
Ucik juga sampai pada simpulan, kesakralan, keindahan, dan tabu merupakan wujud dari eksistensi seksualitas dan erotisme.
“Puncak dari seks adalah keindahan, bukan sesuatu yang tabu, gelap, dan jorok,” tandasnya.

