SEMARANG, INIKAMPUS – Universitas Diponegoro mengukuhkan lima profesor baru, di Gedung Prof. Sudarto, S.H., Selasa, 27 Januari 2026.
Mereka adalah Prof. Dr. Ir. Limbang Kustiawan Nuswantara, S.Pt., M.P., IPU. dan Prof. Dr. Ir. Anis Muktiani, M.Si., keduanya dari Fakultas Peternakan dan Pertanian.
Selain itu, Prof. Dr. Ngadiwiyana, S.Si., M.Si. (Fakultas Sains dan Matematika) dan Prof. Dr. Wahyudi, S.T., M.T. (Fakultas Teknik).
Prof. Limbang Kustiawan Nuswantara merupakan pakar Evaluasi Nutrisi dan Pakan Ruminansia Perah.
Menurutnya, berdasarkan survei 2025, produksi susu di Indonesia hanya mencukupi 17,7% kebutuhan susu nasional.
Dia menyarankan pemenuhan kebutuhan susu melalui formulasi ransum untuk meningkatkan efisiensi pencernaan dan metabolisme mikroba dalam rumen.
“Penyusunan ransum berdasarkan indeks sinkroni merupakan strategi untuk meningkatkan produksi susu dan nutrisinya pada sapi perah,” jelas Prof. Limbang.
Prof. Ngadiwiyana merupakan seorang pakar Modifikasi Senyawa dan Polimer Organik.
Dia menyampaikan orasi “Transformasi Eugenol dari Minyak Cengkih Menjadi Polimer Organik Fungsional sebagai Material Pelapis Ramah Lingkungan untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan.”
Membantu Difabel
Pakar Sistem dan Instrumentasi Kontrol Prof. Wahyudi mengungkap inovasinya bagi tunanetra lewat integrasi sistem kontrol dan kecerdasan buatan.
Pemasangan alat bantu mobilitas ini di kepala penyandang tunanetra.
“Alat ini diintegrasikan dengan kamera time-of-flight, kamera web, algoritme K-Means, Convolutional Neural Network (CNN), dan pemrograman concurrent pada Raspberry Pi 4B untuk mendeteksi dan mengklasifikasikan rintangan dan pengenalan objek di sekitar,” kata Prof. Wahyudi.
Sistem ini mengubah data rintangan menjadi audio spasial yang memungkinkan pengguna untuk memahami lingkungan sekitar melalui arah dan intensitas suara.
“Alat bantu ini masih dikembangkan agar dapat berproses lebih cepat, dilengkapi sistem navigasi Inertial Measurement Unit (IMU) dan sistem pengenalan benda Optical Character Recognition (OCR),” ucapnya.
Meningkatkan Produksi Susu
Prof. Dr. Ir. Anis Muktiani, M.Si. memaparkan “Teknologi Suplementasi untuk Meningkatkan Produksi Susu dan Kesehatan Ternak Perah”.
Menurutnya, konsumsi susu rata-rata penduduk Indonesia 16,64 kg/kapita/tahun, termasuk kategori rendah menurut FAO.
“Salah satunya karena mahalnya harga susu sapi,” katanya.
Konsumsi susu yang rendah pada anak (terutama usia 0-2 tahun), lanjut dia, menjadi salah satu penyebab 44% anak Indonesia mengalami masalah pertumbuhan.
“Untuk itu, peningkatan populasi sapi dan produksi susu ternak perah dilakukan dengan perbaikan pakan melalui formulasi ransum,” tandasnya.

