Falsafah Minangkabau berbunyi, “Iduik bajaso, mati bapusako” yang berarti hidup harus memberi jasa, dan mati meninggalkan pusaka.
Ini menjadi penanda betapa pentingnya kontribusi sosial dalam hidup orang Minang.
Oleh karena itu, ketika warga Malalak ikut mengulurkan tangan demi masa depan Devit, mereka sesungguhnya sedang melestarikan pusaka nilai leluhur mereka.
Dalam konteks ini, Devit bukan hanya anak kuli kayu manis yang lolos ITB.
Ia adalah manifestasi dari etos kultural kolektif yang mengakar di Bumi Minangkabau. (*)

