AGAM, INIKAMPUS – Seabad silam, Tan Malaka berangkat ke Belanda.
Ia membawa cita-cita besar dan sokongan dari komunal kecil di tanah Minangkabau.
Hari ini, semangat itu kembali terdengar dalam langkah Devit Febriansyah, pemuda dari Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat.
Ia lolos ke Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui jalur undangan.
Lahir dari keluarga dengan ekonomi terbatas, Devit mendapat dukungan penuh dari warga satu kampung yang kompak bergotong-royong membiayai keberangkatannya.
Kisah ini memantik perhatian besar, hingga Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., langsung ke Sumatera untuk menjemputnya.
Nama Devit Febriansyah mendadak ramai menjadi perbincangan setelah videonya bersama sang rektor beredar luas di media sosial.
Saat itu, Devit tengah membantu orang tuanya yang bekerja sebagai kuli angkut kayu manis.
Kabar yang menghampiri Devit pun tak kalah manis.
Ia lolos jalur SNBP dan masuk ke Jurusan Teknik Elektro dan Informatika ITB dengan beasiswa penuh.
Ia adalah satu-satunya siswa dari Kecamatan Malalak, Sumatera Barat, yang berhasil menembus kampus bergengsi itu.
Kisah perjuangan dengan topangan gotong-royong warga menyentuh banyak pihak, termasuk rektor ITB yang datang langsung menemuinya di kaki Gunung Singgalang.
Bukan sekadar seremonial, kunjungan itu seakan menjadi penghormatan pada semangat desa yang masih percaya bahwa pendidikan adalah urusan bersama.

