Victoria berharap, keikutsertaan Desideria dalam short course itu dapat mengembangkan program-program di FISIP UAJY, khususnya untuk membantu programnya sebagai Wakil Dekan I.
Pada prosesnya,Desideria mengungkapkan bahwa tantangan utamanya adalah, pertama, menyampaikan kepada dewan juri bahwa dia pantas mendapatkan hibah tersebut.
“Yang kedua, bahwa saya perlu mendapatkan hibah ini, juga pengetahuan apa yang dapat saya aplikasikan dari beasiswa untuk pengembangan UAJY,” kata Desideria.
Lebih lanjut, Desideria juga menyoroti pentingnya kepedulian terhadap isu inklusivitas dalam pendidikan tinggi.
Menurutnya, perhatian terhadap kelompok minoritas dan penyandang kebutuhan khusus menjadi salah satu poin penting yang ia pelajari dari sistem pendidikan tinggi di Australia, yang sejalan dengan nilai-nilai yang dianut oleh UAJY.
Eksplorasi
Desideria berharap, melalui program ini, sivitas akademika UAJY dapat terus mengikuti arah perkembangan dunia pendidikan.
Di sisi lain, menurut Desideria, sivitas akademika juga berani mengeksplorasi area baru, termasuk pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI).
“Sivitas akademika harus berani mengeksplorasi area-area baru yang masih membutuhkan eksperimen dan pembelajaran dari kesalahan,” katanya.
Dalam konteks akademik, seperti di Australia, sivitas akademika di Indonesia harus terus belajar tentang penggunaan AI di dunia pendidikan.
“Kita perlu memahami batasannya dan membuat kebijakan yang relevan dengan kebutuhan masa depan,” ujar Desideria.
“Dengan cara ini, kita bisa tetap berada di garis depan perkembangan pendidikan tinggi dan tidak tertinggal,” imbuhnya. (*)
