SEMARANG, INIKAMPUS – Hendrar Prihadi atau Hendi mendorong agar mahasiswa Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menjadi Agen Indonesia Emas 2045.
Karenanya, anggota Badan Pembina Harian Unimus ini mengajak mahasiswa untuk semakin menyadari peran penting masing-masing sebagai generasi muda dengan memanfaatkan bonus demografi.
Berdasarkan data sensus, lanjut Hendi, lebih dari separuh penduduk Indonesia berada dalam usia produktif.
Kondisi ini adalah peluang emas untuk menciptakan lompatan kemajuan bangsa.
“Ini pengalaman, bukan teori, mahasiswa Unimus bisa menjadi bagian penting di dalamnya,” ujarnya.
Universitas Al Azhar Kairo Buka Prodi S1 Bahasa dan Sastra Indonesia
Poin penting menurutnya, mahasiswa harus optimis.
Hal ini karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa, tapi yang paling penting adalah kualitas SDM.
“Bonus demografi ini hanya akan menjadi berkah jika mampu mengelolanya secara baik,” tandasnya.
Dia menegaskan bahwa, generasi muda adalah agent of change, sebagaimana peran pemuda dalam sejarah Indonesia mulai dari Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, hingga reformasi 1998.
“Tren digitalisasi itu seperti pisau bermata dua.”
“Bisa memperkuat perekonomian, tapi juga menumbuhkan individualisme dan perpecahan sosial.”
Dengan kompetensi dan etika profesional, mahasiswa Unimus bisa berkiprah hingga ke tingkat internasional.
“Karena itu, butuh generasi muda yang tidak hanya cakap digital, tapi juga memiliki semangat gotong royong dan nasionalisme kuat,” tambahnya.
Hendi juga menegaskan bahwa ruang digital seharusnya menjadi media untuk membangun citra positif bangsa.
“Mari isi ruang interaksi digital dengan hal-hal positif semisal eksplor budaya, produk lokal, dan cerita sukses anak muda Indonesia.”
“Jadilah bola kristal yang mengilap di tengah arus globalisasi,” pintanya.
Adaptif Perubahan Teknologi
Sementara itu, praktisi profesional bidang ekonomi dan bisnis, Dr Yulianti mencontohkan lulusan ekonomi dan akuntansi dalam menempuh berbagai jalur karirnya.
Sebagai misal akuntan publik, akuntan manajemen, konsultan pajak, financial analyst, hingga aktuaris dan appraisal.
“Profesi tersebut saat ini sangat bergantung pada literasi digital.”
“Audit sudah berbasis software otomatis, analisis keuangan memakai big data, dan konsultan pajak harus menguasai sistem digital DJP.”
“Artinya, keahlian teknis saja tidak cukup, harus adaptif terhadap perubahan teknologi,” jelasnya.

