Proses identifikasi ketujuh spesies lobster air tawar Papua itu dilakukan secara integratif, menggabungkan pendekatan morfologi dan filogeni molekuler berbasis gen mitokondria 16S dan COI.
Pendekatan ini memastikan hasil yang kuat secara ilmiah dan akurat dari sisi taksonomi.
“Kami tidak hanya melihat bentuk tubuh dan warna, tetapi juga membandingkan DNA-nya untuk memastikan bahwa ini benar-benar spesies yang berbeda,” jelas Rury.
Perdagangan
Yang menarik, sebagian besar spesimen yang menjadi objek penelitian awalnya berasal dari perdagangan akuarium hias internasional.
Spesies-spesies ini muncul dengan nama dagang seperti Cherax sp. “Red Cheek”, Cherax sp. “Amethyst”, dan Cherax sp. “Peacock”, sebelum peneliti berhasil mengidentifikasinya secara ilmiah.
Ingin Memperoleh Beasiswa LPDP untuk Studi Lanjut? Cek Infonya
KEREN! Riska Siela Alumnus FK UMP Jabat Manajer di Hermina Hospital Group
Hal ini menunjukkan bahwa perdagangan spesies eksotik juga bisa membuka peluang riset keanekaragaman jika dikelola secara kolaboratif dan etis.
Rury menegaskan pentingnya kerja sama antara peneliti dan penghobi hewan air dalam mengungkap keanekaragaman spesies.
Beberapa kolektor lokal bahkan terlibat dalam pencarian spesimen di lapangan.
“Komunitas pecinta lobster hias justru sering menjadi sumber awal informasi kami, yang kemudian kami tindak lanjuti dengan riset sistematis,” ujarnya.

