Dengan modal sosial dan kultural semacam itu, seni pertunjukan dapat menjadi medium inklusif untuk merayakan keragaman.
Pada saat yang sama, seni pertunjukan juga dapat menjadi alat untuk mempererat kohesi sosial.
Pertunjukan tari di Bandara KLIA umumnya mengangkat tema-tema dari perayaan besar nasional, seperti Hari Raya Idulfitri, Tahun Baru Cina, Deepavali, hingga Hari Malaysia.
Penyesuaian tema ini menjadi strategi untuk menyampaikan kekayaan budaya kepada pengunjung dari berbagai penjuru dunia secara kontekstual dan menarik.
Pertunjukan tari di Bandara KLIA pada bulan Juni 2025 mengangkat tema multicultural.
Tema itu kemudian hadir dalam satu kemasan tarian, yang menampilkan lima etnis besar di Malaysia.
Tarian tersebut mengambil gerak-gerak khas dan kostum dari setiap etnis dalam balutan musik Visit Malaysia.
Walhasil, kehadiran pertunjukan itu memberikan pengalaman estetik yang unik bagi para pengunjung di Bandara KLIA.
Diplomasi budaya
Lesa Paranti, salah satu peneliti dari Unnes, menyatakan bahwa bandara sebagai ruang publik global menjadi panggung strategis untuk menampilkan seni pertunjukan.
“Ruang transit internasional seperti KLIA memberi peluang luar biasa bagi seni tari untuk tampil sebagai wajah budaya bangsa, memperkuat identitas sekaligus membangun diplomasi budaya,” kata Lesa Paranti, Selasa (24/6/2025).

