Pada akhirnya, seluruh bentuk literasi ini bermuara pada literasi spiritual. Membaca tidak lagi berhenti pada huruf, simbol, atau aturan, tetapi berlanjut pada upaya memahami makna terdalam dari setiap praktik. Talbiyah yang diulang, langkah-langkah dalam tawaf, dan wukuf sebagai puncak haji menjadi teks batin yang ditafsirkan secara personal. Di sinilah haji adalah hub literasi—ruang di mana berbagai bentuk pengetahuan bertemu dan diolah menjadi pengalaman yang utuh.
Dalam perspektif iman, keberadaan haji sebagai titik picu sekaligus titik distribusi literasi ini bukanlah kebetulan. Ia merupakan perwujudan dari janji Allah bahwa rumah pertama yang dibangun untuk manusia di Bakkah, nama yang digunakan Al-Quran untuk menyebut Makkah, adalah rumah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam (QS. Ali Imran: 96).
Bakkah, sebagai episentrum haji, tidak hanya memancarkan cahaya spiritual, tetapi juga cahaya pengetahuan. Dari sana, berkah itu menyebar tanpa henti, menyalakan kesadaran, menggerakkan manusia untuk membaca: huruf, sejarah, dunia, dan dirinya sendiri.
Kita tahu bahwa tidak semua muslim literate dan fasih membaca tulisan Arab, apalagi memahami maknanya. Namun, seperti sering dikatakan, “haji adalah panggilan Allah”, maka siapa pun yang dipanggil berhaji—baik yang masih belajar mengeja huruf maupun yang telah mendalam ilmunya—ia akan memsuki zona literasi: ruang yang disadari atau tidak mengajaknya untuk terus membaca, dalam segala bentuknya, sebagai jalan baginya memahami diri, dunia, dan tuhannya.
Madinah – Makkah, Mei 2026
—Ali Formen, dosen Unnes; anggota jamaah haji Kloter 27 Embarkasi Solo

