Pada mulanya, haji telah memicu literasi dalam bentuk yang paling dasar. Saat belia, kita mengenalnya sebagai kata: h-a-j-i atau h-a-j-j. Di kelas-kelas PAUD dan madrasah, anak-anak belajar melafalkan kata ini, menuliskannya. Sebagian lain menggambar atau membuat replika Ka’bah untuk art project mereka. Seiring dengan usia, muslim diperkenalkan bahwa haji adalah rukun Islam kelima, dengan komponennya kompleks.
Kompleksitas itu, misalnya, berbeda dari rukun Islam lainnya; kewajiban haji bagi muslim mengandung syarat. Yaitu, istithaah—kemampuan untuk melaksanakan perjalanan. Ini disebut dalam Alquran. Muslim merespons konsep ini dengan tidak memandangnya sebagai doktrin teologis semata. Alhasil, istithaah berkembang menjadi pemicu literasi baru dalam kehidupan muslim.
Dalam konteks kesehatan, misalnya, perbedaan iklim antara Indonesia dan Arab Saudi mendorong calon jamaah untuk mengakses pengetahuan dan memahami pentingnya kebugaran, adaptasi tubuh, dan gaya hidup sehat.
Dalam konteks ekonomi, istithaah mendorong literasi finansial di kalangan muslim. Literasi finansial ini tampak, misalnya, dari praktik perencanaan keuangan sederhana yang tergambar dalam tradisi umplung baitullah hingga skema tabungan dan pembiayaan haji modern oleh sektor perbankan.
Tidak berhenti di situ, kompleksitas mobilitas global haji juga mendorong literasi baru tentang perjalanan, manajemen risiko, dan tata kelola layanan. Industri travel berkembang, bergeser dari sekadar urusan leasure and pleasure menjadi fasilitator perjalanan spiritual. Bahkan, dunia pendidikan tinggi merespons dengan membuka program studi manajemen haji dan umrah. Dengan demikian, haji tidak hanya memicu literasi individu, tetapi juga membentuk ekosistem pengetahuan dan industri yang luas.
Distribusi Literasi
Namun, yang tidak kalah penting adalah bagaimana haji mendistribusikan literasi tersebut. Sejak sebelum keberangkatan, jamaah telah berhadapan dengan kebutuhan membaca dalam pengertian paling dasar: membaca huruf Arab, melafalkan doa, dan mengenali simbol-simbol ibadah. Talbiyah, niat ihram, doa tawaf, hingga bacaan-bacaan pendek menjadi bagian dari latihan literasi yang hidup. Bagi sebagian orang, ini adalah penguatan kembali kemampuan membaca; bagi yang lain, mungkin ini adalah awal dari proses belajar yang lebih mendalam.

