Puisi, bagi Ingarden, diadaikan seperti kue lapis. Lapis pertama dinamakan lapis bunyi, kemudian lapis arti. Selanjutnya lapis objek, lapis dunia, dan lapis terakhir adalah lapis metafisik.
Lapis bunyi ini, jika dibaca, puisi tersebut di atas tampak tergelar secara harmonis antara kombinasi bunyi-bunyi yang serasi antara bunyi vokal, konsonan, asonansi, aliterasi seperti terlihat dalam –an: kemanusiaan, keindahan, tarian, peradaban, sembahan, penantian, dipanggungkan, gangsaran, pethilan, dan karawitan. Bunyi-bunyi tersebut masih dikominasi dengan bunyi konsonan ur (sampur, tlutur) sehingga vitalitas puisi ini menjadi lentur seperti seorang penari yang sedang melenggang dan menari tari Jawa yang sesungguhnya. Kesan pertama setelah dibaca, puisi pada larik-larik tersebut serasa hidup bergerak mengikuti alunan gending Jawa bergerak mengikuti irama gamelan Jawa.
Lapis kedua yaitu lapis arti dapat dilihat melalui pilihan penyair menentukan diksi yang digunakan. Pilihan kata selesai, sembur adas, kemudian pada larik berikutnya kita bertemu diksi engkau pun, ke pentas, selanjutnya peran, seblak sampur, sampak, dan tlutur bukan saja menimbulkan efek estetis pada setiap larik, terutama pada perulangan bunyi yang indah, tetapi juga meneguhkan arti gemulainya seorang penari perempuan Jawa. Lebih dari itu, pilihan diksi pada setiap larik ternyata mampu menjadikan puisi tersebut tergelar ke dalam enam bait.
Bait pertama mengisyaratkan pembuka tarian; dilanjutkan bait kedua yang merupakan arena tempat gelaran tari, yaitu para penonton yang digambarkan detail dari aneka warna, ras, dan pluraritas bangsa. Sementara bait ketiga dan keempat merupakan isi. Selanjutnya bait kelima berisi tarian penutup.
Entah disengaja, penyair memilih penutup pada bait kelima dengan pilihan kata lalu gangsaran. Diksi gangsaran dipilih untuk menandakan jenis gamelan yang sering dipertunjukkan pada gelaran wayang atau tarian yang menggambarkan pertempuran brubuh untuk menentukan kebenaran sebagai pemenang. Sepadan dengan tampilan gelaran wayang, stuktur sastra wayang terletak pada alur menuju akhir.
Ternyata penyair memang sengaja memilih diksi gangsaran untuk membuka pertanyaan nakal dari penyair di bait akhir (di ruang ganti itu engkau bertanya: manakah yang lebih indah, lakon pethakilan dan kartawitan atau paha tanpa beha). Sampai di sini pemahaman ini belum selesai karena kita belum paham apa yang dimaksud puisi tersebut di atas. Beruntung kita masih menyisakan penejelasan lapir seterusnya dari teori Ingarden.
Lapis ketiga disebut lapis objek. Pada puisi tersebut, objek yang dibicarakan adalah perempuan, penari, penonton, dan bangsal. Meskipun perempuan secara eksplisit tidak ditampilkan dalam larik, kepiawaian penyair mampu mengangkat daya khayal pembaca untuk membayangkan penari perempuan Jawa. Kata bangsal menunjukan gelaran tari sebagaimana judul, yaitu ruang terbuka di pendapa keraton Jawa, yaitu Keraton Yogyakarta Hadiningrat.
Lapis keempat merupakan lapis dunia. Dalam hal ini, puisi tersebut terbangun dari gelaran dunian tarian yang dipentaskan di sebuah bangsal keraton yang agung yang terletak di bagian pendapa.
Lapis kelima disebut lapis metafisik dan inilah sebenarnya pusat pemaknaan sebuah puisi. Idelogi apa yang akan disampaikan penyair dapat dirunut dilapis ini. Sampai di sini, penjelasan mengenai puisi tersebut menjadi gelap.
Namun, bagi yang suka membaca puisi, ada bantuan (deiksis) sebagai penunjuk jalan. Makna puisi bukan hanya ditentukan oleh larik-larik, tetapi juga kesatuan semua yang tersaji. Judul puisi tersebut dan larik penutup, jika diperhatikan sekilas, menumbuhkan keanehan dan persoalan. Rifaterre (1978) menyatakan bahwa sesuatu yang disebut aneh dalam puisi bisa disebut sebagai sesuatu yang “mencurigakan” dan fenomal. Judul ‘’Dari Bangsal Sri Manganti, Keraton Yogyakarta, Suatu Hari’’ memunculkan daya khayal yang luar biasa, agung, dan sakral. Namun, frasa suatu hari memunculkan pertanyaan yang nyleneh, ada apa gerangan?
Keraton merupakan sumber budaya yang penuh norma dan tatanan rumit . Tak ada pikiran dan kesan celelekan. Namun, di sebuah ruang ganti (maksudnya bagian dalam keraton) ada peristiwa yang membuat kita menjadi mahfum bahwa persoalan manusia sebenarnya sama, (di ruang ganti itu engkau bertanya: manakah yang lebih indah, lakon pethilan dan karawitan atau paha terbuka dan dada tanpa beha).
Keraton merupakan tempat ideal dan tidak setiap orang mampu berada di sana. Di keraton ada raja, seorang penguasa yang sangat berkuasa (istilah Jawa: bisa nggepuk bathuke wong saknegara artinya sangat mampu mengatur/ sangat menguasai semua manusia di bumi ini). Bagi raja-raja Jawa (Mataram), raja juga bergelar Sayidin Panetep Panatagama. Artinya, raja bukan saja penguasa dunia tapi raja adalah wakil para wali, menguasai yang di dunia juga) karenanya, di kraton keteraturan adat, norma sangat dijaga ketat, ada tatanan (hukum) atau aturan, istilah Jawa: subasita).
