Close Menu
  • Beranda
  • Berita
  • Agenda
  • Opini
  • Riset
  • Prestasi
  • Beasiswa
  • Profil
  • Insiprasi
  • iniKids
What's Hot

Ketika Tubuh Menjadi Teks Kebudayaan

5 November 2026

Tiga Dalang Muda Jateng Raih Prestasi di Festival Dalang Nasional

4 November 2026

Dalang Anak Asal Batang Anang Purbacarita Suguhkan Wayang Golek Cepak di Festival Nasional

4 November 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Beranda | Tentang Kami |  Redaksi |  Pedoman Media Siber |  Kebijakan Privasi  | Iklan dan Kerja Sama |  Layanan | Kontak
Facebook X (Twitter) Instagram
iniKampusiniKampus
  • Beranda
  • Berita
  • Agenda
  • Opini
  • Riset
  • Prestasi
  • Beasiswa
  • Profil
  • Insiprasi
  • iniKids
Donasi
iniKampusiniKampus
Beranda » Ketika Tubuh Menjadi Teks Kebudayaan » Halaman 5
Opini

Ketika Tubuh Menjadi Teks Kebudayaan

adminBy admin5 November 2026Updated:5 November 2026Tidak ada komentar19 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Email LinkedIn Pinterest Copy Link
Prof. Dr. RM Teguh Supriyanto, M.Hum., Guru Besar Ilmu Sastra FBS Unnes
Share
Facebook Twitter WhatsApp Email Copy Link LinkedIn Pinterest

Dengan kata lain, tubuh penari bukanlah entitas pasif, melainkan subjek aktif yang menghidupi setiap gerakan dengan makna. Seorang penari sakral seperti penari bedhaya ketawang, yaitu jenis tarian sakral yang dirtampilkan pada saat jumenengan raja Jawa atau ulang tahun kenaikan takhta wajib melakukan serangkaian kgiatan mulai dari berpuasa dan sebagainya. Serangkaian olah tubuh menjadi fondasi berikut setelah lolos pendadaran menari bedhoyo Ketawang tersebut. Kualitas tarian harus menar benar terkontrol dengan ketat.

Dalam tari Bedhaya Ketawang yang sakral, sembilan penari perempuan dalam kondisi suci memiliki filosofi mendalam: manusia harus bisa menutup sembilan lubang di badan agar dapat menyucikan dirinya. Sembilan lubang yang dimaksud adalah dua mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, mulut, anus, dan lubang alat vital. Kesembilan penari masing-masing memiliki peran yang mewujudkan bagian-bagian tubuh: Batak sebagai kepala (jiwa), gulu sebagai leher, dhada sebagai dada, apit ngarep dan apit mburi sebagai lengan, endhel weton dan apit meneng sebagai tungkai, serta buncit sebagai organ seks. Tubuh dalam konteks ini bukan hanya fisik, tetapi juga peta spiritual yang menghubungkan manusia dengan Yang Ilahi.

Pelatihan olah tubuh merupakan salah satu strategi penting dalam membentuk kualitas fisik dan artistik penari, khususnya tari tradisi. Proses ini mencakupi teknik pernapasan, keluwesan gerak, kesadaran ruang, dan pengendalian ekspresi tubuh sesuai dengan pakem tradisi. Pelatihan olah tubuh secara sistematis dan berkelanjutan mampu meningkatkan kepekaan estetis, kekuatan dramatik, serta ketepatan dalam menggerakan tubuh sebagai penari. Integrasi pelatihan ini menjadi fondasi utama dalam mencetak penari profesional yang tidak hanya menguasai teknik, tetapi juga mampu menginternalisasi nilai-nilai budaya dalam setiap geraknya.

Pelatihan gerak dari kepala hingga tungkai penari Jawa meliputi bagian kepala, leher, tangan, badan, dan kaki –semuanya bergerak dalam harmoni yang terukur. Dalam tari tradisional Jawa, dikenal istilah adeg sebagai sikap tubuh penari saat menari. Gerak tubuh yang dilakukan antara lain adalah gerak hoyog atau leyek (tubuh diayun ke samping kiri dan kanan). Ketika berjalan, posisi tungkai ditekuk yang disebut mendhak. Sikap dasar ini menjadi fondasi bagi seluruh rangkaian gerak, yang dipadu dengan gerak kepala, lengan, dan tungkai untuk membangun adeg sebagai konstruksi tubuh yang utuh.

Dalam budaya tari Jawa, rasa merupakan roh atau inti keindahan tari. Kata rasa berasal dari bahasa Sanskerta yang memiliki banyak arti: perasaan, pendapat, inti sari, substansi,  makna, hingga disposisi atau kondisi nyata. Secara global, rasa merupakan hasil dari tanggapan tubuh fisik maupun psikis terhadap segala sesuatu yang dialami. Keindahan tari Jawa di antaranya dibangun oleh bentuk tubuh penari dan kondisi ekspresi wajah (raut muka, pandangan mata, bentuk wajah). Tubuh secara fisik maupun psikis menjadi syarat penting dalam merepresentasikan rasa dalam tari tubuh fisik menyangkut kesadaran terhadap keterampilan, sementara kondisi psikis meliputi perasaan, batin, jiwa, emosi-pikir, dan kepekaan estetik.

Masyarakat tradisional Jawa memiliki keyakinan bahwa manusia sebenarnya merupakan jagad cilik (mikrokosmos) yang berada di makrokosmos atau jagad gedhe. Artinya, di jagad gedhe dalam alam mayapada. Di alam kosmologis ini manusia hanyalah sebagian kecil mikrokosmos yang harus mengetahui posisinya dengan kekuatan yang lebih besar di alam semesta makrokosmos. Keyakinan ini memengaruhi bagaimana penari bergerak di dalam ruang, dengan mengacu pada kekuatan pusat dan orientasi utara-selatan.

Penelitian tentang Tari Srimpi menunjukan bahwa tubuh penari tidak hanya menampilkan kosmologi, tetapi juga mengalaminya secara langsung (menubuh). Tubuh menjadi tempat dimana kosmologi empat unsur (tana, air, api, angin) dirasakan, dinegosiasikan, dan dihidupi dalam praktik tari sehari-hari.

5/ Ketika Tubuh penari Jawa sebagai Teks kebudayan

Teks penari Jawa secara semiotis merupakan tanda teks antara aksara dan warisan budaya. Dalam perkembangannya, tubuh penari Jawa terus dieksplorasi sebagai medium kreatif. Penari mengeksplorasi kelenturan tubuh mereka dengan meliuk tangan, bahu, pinggang, leher bahkan menggulingkan tubuh untuk menduplikasikan lengkungan huruf Jawa yang disebut hanacaraka. Gerakan maknawi tersebut membentuk tubuh menjadi tubuh aksara. Tubuh penari adalah media rasa, sumber ekspresi, dan sekaligus pewaris tradisi yang hidup. Di dalamnya terkandung aturan-aturan baku yang ditulis sangat terperinci dari bentuk postur tubuh, ukuran tubuh, tegak tubuh, corak wajah, hingga gaya gestur tubuh sebuah warisan yang terus dijaga dan dihidupi dari generasi ke generasi.

Tubuh penari Jawa adalah persimpangan antara fisik dan metafora, antara teknis dan spiritual, antara individu dan kosmos. Ia bukan sekadar alat untuk menari, melainkan media di mana budaya, filosofi, dan rasa bertemu dan bersatu. Dalam setiap gerakan yang gemulai, dalam setiap tekukan lutut dan ayunan tangan, tersimpan ribuan tahun kearifan yang terus bergerak menari melintasi waktu.

Dialektika tubuh perempuan dan teks dalam kebdayaan Jawa bukanlah hubungan satu arah di mana teks begitu saja membentuk tubuh. Sebaliknya, gerak tari merupakan dialog yang terus-menerus sebuah proses di mana teks mengkodifikasi dan mengendalikan tubuh, namun tubuh juga merespons, merundingkan, dan kadang-kadang menolak kodifikasi tersebut. Teks-teks klasik Jawa seperti Serat Centhini, Serat Candraning Wanita, dan Kitab Katurangganing Wanita telah lama menjadi instrumen pembentukan subjektivitas perempuan, namun praktik-praktik budaya seperti tayub, bedhaya, dan ritual perawatan tubuh menunjukan bahwa tubuh perempuan tidak pernah sepenuhnya tunduk pada teks.

Memahami dialektika ini penting bukan hanya untuk membaca masa lalu, tetapi juga untuk merefleksikan bagaimana konstruksi tubuh perempuan terus berlanjut di era kontemporer dalam iklan, film, media sosial, dan berbagai bentuk teks baru yang terus-menerus menulis dan menulis ulang makna tubuh perempuan. Sebagaimana dikatakan oleh para pengkaji budaya Jawa, nilai-nilai yang kita pegang sebagai masyarakat akan selalu berevolusi dari zaman ke zaman. Dalam evolusi itulah dialektika antara tubuh dan teks terus berlangsung sebuah perjalanan tanpa akhir di mana tubuh perempuan tetap menjadi medan pertarungan makna yang paling hidup dan paling menggugah.

–Prof. Dr. RM Teguh Supriyanto, M.Hum., Guru Besar Ilmu Sastra Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang

1 2 3 4 5
Prof. Teguh Supriyanto Suminto A Sayuti tubuh perempuan
Share. Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn Email Threads Copy Link

Konten Terkait

Dari Kresna ke BIPA

9 Oktober 2026

Bahasa Indonesia: Dari Ruang Kuliah ke Panggung Dunia

6 Oktober 2026

Saat AI Makin Pandai Menulis, Apa Perlunya Mata Kuliah Bahasa Indonesia?

1 Oktober 2026

Paradoks Indonesia: Kita Benar-benar Tangguh atau Hanya Terbiasa Bertahan?

14 Juni 2026
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Konten Terbaru

Ketika Tubuh Menjadi Teks Kebudayaan

5 November 2026

Tiga Dalang Muda Jateng Raih Prestasi di Festival Dalang Nasional

4 November 2026

Dalang Anak Asal Batang Anang Purbacarita Suguhkan Wayang Golek Cepak di Festival Nasional

4 November 2026

Bantu UMKM Lebih Dikenal, Mahasiswa KKN Unnes Pasang 14 Banner di Selomirah

31 Oktober 2026

Mahasiswa KKN Unnes Sosialisasikan Stunting di Posyandu Dusun Calombo

29 Oktober 2026

Langganan Informasi Terbaru

Dapatkan berita pendidikan terbaru dari Inikampus seputar pendidikan, beasiswa, dll

IniKampus adalah portal berita yang menyajikan informasi terkini seputar dunia pendidikan tinggi di Indonesia dan mancanegara. Kami hadir untuk menjadi referensi terpercaya bagi mahasiswa, dosen, akademisi, serta masyarakat umum yang peduli terhadap perkembangan sektor pendidikan.

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube

Ketika Tubuh Menjadi Teks Kebudayaan

5 November 2026

Tiga Dalang Muda Jateng Raih Prestasi di Festival Dalang Nasional

4 November 2026

Dalang Anak Asal Batang Anang Purbacarita Suguhkan Wayang Golek Cepak di Festival Nasional

4 November 2026

Langganan Informasi Terbaru

Dapatkan berita pendidikan terbaru dari Inikampus seputar pendidikan, beasiswa, dll

© 2026 IniKampus. Designed by Inikampus.
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Panduan Kolumnis
  • Kebijakan Privasi
  • Iklan
  • Layanan
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.