Tradisi tekstual Jawa kaya akan naskah yang secara sistematis mengklasifikasikan tubuh perempuan sebagaimana disebutkan di atas. Serat Candraning Wanita, misalnya, menggolongkan perempuan ke dalam 33 jenis serta menjelaskan ciri fisik, alat kelamin, hingga watak mereka. Dalam naskah ini, perempuan digambarkan sebagai objek sehingga dapat ditentukan konsepnya sebuah manifestasi ideologi patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pihak dominan yang berhak menentukan persetujuan sosial terhadap perempuan.
Demikian pula dalam Kitab Pirasating Sujalma miwah Katurangganing Wanita, sebuah teks berbahasa Jawa klasik yang ditulis dalam tembang macapat (puisi Jawa klasik dalam metrum macapat) berisi tentang firasat berdasarkan hubungan bentuk tubuh manusia dengan sifat atau karakternya, serta khususnya hubungan bentuk atau ciri-ciri tubuh perempuan (wanita) dan katuranggan perempuan terhadap perilaku atau wataknya. Ilmu katurangganing wanita ini merupakan semacam fisiognomi yang berusaha memahami watak dan sifat perempuan melalui ciri-ciri fisiknya. Bentuk tubuh, warna kulit, hingga rambut diyakini mengindikasikan karakter sekaligus tabiat perempuan.
Dalam Serat Centhini, salah satu karya sastra Jawa paling legendaris, juga termuat deskripsi tubuh perempuan yang sangat terperinci. Sejumlah istilah dan konsep kebudayaan Jawa muncul sebagai deskripsi tubuh perempuan. Sejumlah istilah muncul sebagai deskripsi tubuh wanita guntur madu, mrica pecah, sri tumurun, puspa megar yang digunakan sebagai tipe-tipe perempuan. Naskah ini mengklasifikasikan perempuan ke dalam berbagai kategori seperti bongoh (gemuk dan kukuh), dhenok (gemuk namun serasi), sedhet (bertubuh sedang), lencir (semampai dengan payudara bulat berisi), dan bentrok (tinggi agak besar dan padat berisi).
Melalui teks-teks semacam ini, tubuh perempuan mengalami apa yang dapat disebut sebagai “kodifikasi” proses penerjemah realitias fisik ke dalam kategori-kategori tekstual yang sarat dengan nilai dan norma. Teks menjadi instrumen pengendalian sosial: dengan menentukan apa yang disebut ‘’wanita mulia’’ muncul unen–unen “wanita wani ditata”. Muncul juga secara ungkapan metaforis berdasarkan ciri-ciri fisik tertentu seperti payudara penuh bak “cengkir gadhing”’ (kelapa muda) dan watak yang baik, tunduk, dan berbakti kepada pria (suami) pada dasarnya membentuk idealitas sekaligus batas-batas bagi tubuh perempuan. Tubuh perempuan, dengan demikian, merupakan medan kuasa dan resistensi perempuan sekaligus.
Namun, dialektika tidak berhenti pada dominasi teks atas tubuh. Tubuh perempuan dalam kebudayaan Jawa juga menjadi medan di mana kuasa dipertaruhkan, dinegosisikan, bahkan dilawan. Dalam praktik seni pertunjukan seperti tayub, misalnya, tubuh penari perempuan berada dalam tarik-menarik antara tuntutan tradisi, komersialisasi seni, dan kesadaran gender. Tari tayub sebagai bentuk kesenian tradisi Jawa sering dilekatkan pada stigma erotis dan relasi kuasa patriarki, namun para penari tayub tidak semata-mata menjadi objek hiburan. Mereka memiliki agensi dalam menentukan representasi diri, relasi dengan penonton, serta ruang tawar dalam kehidupan sosial. Melalui dialektika feminisme, tayub dapat dipandang sebagai arena ekspresi, perlawanan, dan artikulasi identitas perempuan Jawa yang kompleks.
Tubuh perempuan Jawa juga diidentikan dengan kelemahlembutan dan dituntut untuk lekat dengan nilai-nilai budayanya dengan kedudukan sebagai penyangga pilar budaya Jawa. Namun, tuntutan ini tidak berarti pasif. Dalam tari bedhaya Ela–ela, misalnya, perempuan Jawa menunjukan potensi dan kecerdasan tubuhnya bukan hanya tubuh fisik tetapi juga tubuh psikis yang meliputi persepsi, imajinasi, interpretasi, dan pemahaman tentang nilai-nilai budaya Jawa. Tubuh menjadi medium ekspresi dari perasaan, gejolak batin, ide, gagasan, dan pemahaman keyakinan dalam kehidupan sosial.
Bahkan dalam ranah publik yang tampak paling terkontrol sekalipun, seperti praktik perawatan tubuh pasca melahirkan, perempuan Jawa menunjukan siasat dan agensi. Hegemoni tubuh ideal yang berkaitan dengan peran gender dan harapan masyarakat mendorong perempuan Jawa untuk mempertahankan tubuh yang langsing daan ramping. Namun, praktik-praktik tradisional seperti penggunaan gurita, stagen, pilis, dan jamu beras kencur tidak sekedar bentuk kepatuhan pada norma, melainkan juga strategi untuk mempertahankan keindahan fisik, memperkuat relasi dengan suami, dan melestarikan tradisi keluarga.
3/ Dialektika antara Sakral dan Profan
Salah satu aspek paling menarik dari dialektika tubuh perempuan dan teks dalam kebudayaan Jawa adalah posisi tubuh perempuan ambivalen ditarik dalam dua kutub paradoksal, antara yang sakral dan profan. Dalam kosmologi Jawa, tubuh perempuan berperan sebagai hierofani yang memunculkan mysterium tremendum et fascinans kehadiran yang sekaligus menggetarkan dan memikat.
Di satu sisi, teks-teks Jawa menggambarkan tubuh perempuan sebagai simbol kesuburan dan kekuatan gaib. Dalam tradisi tantrik Jawa kuno, misalnya, keindahan alam dikonseptualisasikan sebagai tubuh perempuan –perempuan sebagai representasi dari alam yang belum berevolusi. Tokoh-tokoh perempuan seperti Ken Dedes dan Dewi Mundingsari dipandang sebagai perwujudan perempuan sakti. Mereka dipandang mampu yang dapat mengabsahkan kekuasaan laki-laki. Tokoh Dewi Sri, dianggap sebagai dewi kesuburan, memiliki tubuh mitis yang dikonsepsikan sebagai keatuan yang utuh.
Di sisi lain, teks yang sama sering menempatkan tubuh perempuan sebagai objek kontrol dan disiplin. Dalam naskah Dewi Murtasiyah, misalnya, perempuan digambarkan sebagai sosok yang bijak namun tetap dalam kepungan patriarki Jawa. Perempuan secara ganda bertindak sebagai subjek sekaligus objek dari konstruksi budaya. Dialektika ini mencerminkan ambivalensi fundamental dalam kebudayaan Jawa: tubuh perempuan dipuja sebagai objek yang perlu diatur. Pandangan menarik muncul dari konsep panyandra dalam kebudayaan Jawa kuno, yaitu deskripsi bentuk tubuh perempuan yang dipahami sebagai substansi antara dua elemen antara yang di luar dan di dalam.
4/ Tarian Jawa: Media Sakral yang Menari Antara Fisik, Rasa, dan Kosmos
Dalam tradisi Jawa, tubuh penari bukan sekadar alat untuk menghasilkan gerakan indah. Ia adalah sebuah omah, rumah, yang di dalamnya bersemanyam jiwa, rasa, dan nilai-nilai luhur budaya. Tubuh menjadi sarana pokok utama sebagai media gerak yang didesain sesuai dengan substansi garapannya. Tubuh penari Jawa bukan sekadar ekspresi artistic. Tubuh penari Jawa dipandang sebagai representasi dari kosmologi, filosofi hidup, dan keseimbangan antara mikrokosmos (manusia) dengan makrokosmos (alam semesta). Tubuh penari Jawa juga dipandang sebagai media ekspresi dan representasi Jiwa.
Di dalam tari tradisi Jawa-Surakarta, konsep tubuh (adeg, dedeg) merupakan hal yang sangat penting dan sangat diperhitungkan. Tubuh adalah presentasi jiwa dan karakter. Seorang penari merupakan medium yang akan mempresentasikan segala ide dan gagasan dalam sebuah koreografi tari. Penampilan tubuh penari sangat tergantung pada keterampilan gerak, kemampuan interpretasi, dan kemampuan merasakan, dengan dukungan sarana atau media.
