Dalam kebudayaan Jawa, keraton disebut sebagai sumber kebudayaan karena di sanalah berbagai produk budaya yang disebut adiluhung dihasilkan. Dengan demikian, bagi masyarakat Jawa, keraton adalah rujukan perilaku. Jika dikaitkan dengan puisi di atas, terutama frasa “suatu hari” menegaskan bahwa pada waktu yang lain tidak begitu. Larik ini dengan gampang dapat menjebak kita pada simpulan berikut. Penyair sangat masgul dengan situasi kekinian (pada suatu hari) sehingga wajib memperingatkannya. Apa yang dimasgulkan penyair? Jawabannya adalah situasi keraton yang dahulu dianggap sakral karena hanya diperuntukkan bagi kebudayaan yang adiluhung (tarian bedaya yang memesona) tiba-tiba diisi oleh orang-orang yang tidak baik (Jawa: pethakilan atau celelekan).
Melihat situasi yang demikian, penyair sangat gundah: manakah yang lebih indah lakon pethilan dan karawitan atau paha terbuka dan dada tanpa beha. Bagi masyarakat tertentu yang tidak baik, yang selalu menuruti nafsu akan memilih pilihan yang kedua: paha terbuka dan dada tanpa beha (simbol nafsu duniawi). Namun, tidak demikian bagi penyair dan masyarakat yang suka kebaikan. Itulah sebabnya frasa “lakon petilan dan karawitan” (simbol keindahan dan adiluhung) menjadi penegas sikap penyair terhadap situasi keraton (istilah untuk kekuasaan). Situasi kekinian dia gambarkan melalui adegan tari, mulai dari seblak sampur (pembuka tarian). Pada awal tarian, penyair menjelaskan jenis gending yang kemudian mengiringi tarian tersebut yaitu sampak dan tlutur. Jenis gending sampak dalam gelaran karawitan hanya cocok dengan iringan adegan perang (kekerasan) dan sebaliknya, jenis gending tlutur digunakan untuk mengiringi suasana sedih. Suasana penyair yang jengkel (marah) dan sedih dipaparkan dengan jelas dan gamblang, dua oposisi yang bertali sekaligus berdialektik.
Jika kita ingin meneliti lebih jauh, sebenarnya penyair tidak senakal yang kita duga. Pertanyaan kemudian muncul, mengapa harus mengiringi sebuah tarian? Gerak tarian adalah keteraturan sesuai dengan kaidah tari (Jawa: pakem). Gerak tari pastilah teratur, sesuai dengan ritme, lenggang tarian, dan ritme gending pengiring. Seorang penari tidak boleh tergesa-gesa meskipun sudah sangat hafal gerak, tetapi harus menunggu saat bergerak. Tarian adalah gambaran perjuangan yang ideal, yang tertib dan teratur sebagaimana tatatan di keraton. Jika dibaca dari sudut pandang ideologi, pandangan dunia romantik dengan demikian dipermainkan, ditekuk, dan dibentuk melalui gaya sindiran: Manakah yang lebih indah… lakon pethilan… apa dada tanpa beha….
Dari paparan di atas, penyair sangat berhasil membuat puisi tersebut manakala didasarkan pada ideologi lokal (Jawa) yang memang sehari-hari dilakoninya. Suminto menjadi penyair yang kesekian melengkapi khazanah sastra Indonesia modern yang memanfaatkan ideologi Jawa sebagai sumber dan dasar pembuatan karya sastranya, sebagaimana Tohari, Kayam, Linus, Arswendo, dan yang lain. Penyair ini (maksudnya Suminto), memanfaatkan tubuh penari Jawa yang memang sering ditontonnya. Ia berhasil mentaskan tubuh penari Jawa ke dalam gelaran puisinya.
Tubuh, dalam pemahaman medis dan biologis, sering diposisikan sebagai entitas alamiah yang netral terdiri atas daging, tulang, dan darah yang berfungsi secara mekanisme. Namun, ketika tubuh dilekatkan pada identitas perempuan, tidak lagi sekedar benda organik. Ia menjelma menjadi panggung pertunjukan kanvas lukisan dan naskah yang terus-menerus ditulis, dibaca, serta ditafsirkan oleh kuasa budaya di sekelilingnya. Dalam arus pemikiran pascastrukturalis, terutama yang digagas oleh Michel Foucalt dan kemudian diperluas oleh para teoretisi feminis seperi Judith Butler, tubuh dipahami sebagai constructured reality –sebuah realitas yang dibentuk oleh wacana, norma, dan relasi kuasa yang dominan.
Di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang majemuk, tubuh perempuan menjadi medan tarik menarik yang kompleks antara nilai nilai tradisi dan arus modernisasi. Di satu sisi, tubuh perempuan kerap dijadikan penanda adat dan martabat keluarga dan budaya yang melingkupinya, seperti terlihat dalam berbagai aturan berpakain di ranah publik atau kontrol terhadap seksualitas. Di sisi lain, kapitalisme dan industri media justru manfaatkan tubuh perempuan menjadi komoditas, menjadi objek bukan lagi subjek. Tubuh perempuan diobjektivasi sebagai komoditas pemuas hasrat visual, menjadikannya alat jual yang efektif namun seringkali melucuti subjektivitasnya. Tubuh perempuan, dalam hal ini, terperangkap dalam dua kutub: ia harus suci secara moral namun juga menarik secara fisik sebuah kontradiksi yang membuat perempuan kerap mengalami alienasi terhadap dirinya sendiri.
Ironisnya, narasi-narasi dominan tentang tubuh ini sering kali dinaturalisasi, sehingga dianggap sebagai ‘’takdir’’ atau ‘’kodrat’’ yang tidak terbantahkan. Akibatnya, ketika seorang perempuan menolak tafsir tunggal atas tubuhnya, misalnya melalui gerakan tubuh bebas, pilihan atas hak reproduksi, atas penolakan terhadap standar kecantikan ia kerap dicap menyimpang, tidak beradab, bahkan “menggugat budaya” itu sendiri. Padahal, jika kita menilik lebih dalam, tubuh adalah medium paling intim yang dimiliki manusia; menjadi ‘’teks’’ bukanlah masalah, yang menjadi persoalan adalah siapa yang memegang pena dan wewenang untuk menuliskannya.
Puisi Suminto membedah secara kritis bagaimana kebudayaan menuliskan narasi kuasanya di atas tubuh perempuan serta bagaimana perempuan sebagai subjek dapat melakukan pembacaan ulang (re-reading) dan penulisan ulang (re-writing) terhadap teks kultural yang membelenggunya. Dengan menggunakan pisau analisis teori semiotik dan gender, tulisan ini berupaya mengupas tabir realitas bahwa tubuh perempuan bukanlah dokumen mati yang pasif, melainkan naskah hidup yang bergerak dan berpotensi untuk mendekonstruksi makna-makna lama menuju kesadaran baru tentang otonomi dan eksistensi. Puisi Suminto, dengan demikian, menggugat sekaligus mempertanyakan ideologi romantisisme yang ketat pada otonomi kaku sebagaimana prinsip strukturalisme baru.
2/ Dialektika Tubuh Perempuan dan Teks dalam Kebudayaan Jawa
Dalam kebudayaan Jawa, tubuh perempuan bukan sekedar entitas biologis, melainkan medan simbolik yang sarat dengan muatan budaya, agama, dan politik. Tubuh perempuan di persepsi sebagai wadah kekuatan gaib, simbol berhubungan antara manusia, alam, dan dunia roh. Di sisi lain, teks-teks klasik Jawa baik yang berbentuk serat, primbon, maupun naskah kuno telah lama menjadi instrumen yang membentuk, mengatur, dan mengonstruksi makna tubuh perempuan. Dialektika antara tubuh perempuan dan teks dalam kebudayaan Jawa menghadirkan hubungan yang kompleks: teks membentuk tubuh, namun tubuh juga tidak pernah sepenuhnya tunduk pada teks. Tulisan esai ini mengupas bagaimana teks-teks Jawa mengonstruksi tubuh perempuan, bagaimana tubuh perempuan merespons dan merundingkan konstruksi tersebut, serta dialektika yang lahir dari pertemuan keduanya. Dengan demikian, tubuh perempuan dipandang sebagai objek teks sekaligus sebagai dialektika antara kodifikasi dan pengendalian.
