oleh Hikmatun Balighoh Nur Fitriyati., M.Psi., Psikolog
KETIKA Prabowo Subianto menulis Paradoks Indonesia, ia mengajukan sebuah kritik yang sederhana sekaligus menggugah.
Kritik itu berisi pertanyaan mengapa bangsa yang begitu kaya, hingga kini belum mampu sepenuhnya menyejahterakan rakyatnya?
Pertanyaan tersebut berangkat dari asumsi bahwa persoalan utama Indonesia terletak kepada jarak antara potensi dan kenyataan. Semakin besar kekayaan yang dimiliki suatu bangsa, semakin mengherankan ketika kesejahteraan yang dihasilkan tidak sebanding dengan kekayaan tersebut.
Paradoks itu masih relevan. Namun beberapa tahun setelah buku tersebut diterbitkan, saya justru melihat paradoks yang lebih mendasar daripada persoalan sumber daya, investasi, atau pertumbuhan ekonomi.
Paradoks Indonesia hari ini bukan hanya terletak kepada apa yang dimiliki bangsa ini, melainkan cara bangsa ini memaknai kenyataan yang dihadapinya.
Kita hidup di tengah situasi yang aneh. Ketika berbagai indikator menunjukkan tekanan ekonomi yang meningkat, masyarakat tetap dapat merasa baik-baik saja.
Ketika ruang politik semakin dipenuhi pertunjukan yang miskin substansi, perhatian publik justru semakin mudah dialihkan oleh sensasi berikutnya. Ketika kualitas diskursus publik mengalami kemunduran, kita masih terus meyakinkan diri bahwa semuanya sedang bergerak ke arah yang benar.
Dalam filsafat, Slavoj Žižek menyebut kondisi semacam ini sebagai fetishistic disavowal: mereka tahu apa yang sedang terjadi, tetapi tetap bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Barangkali inilah paradoks Indonesia yang sesungguhnya. Kita mengetahui semakin banyak persoalan tetapi semakin sulit membangun kegelisahan kolektif terhadap persoalan tersebut.
Paradoks tersebut semakin menarik manakala Indonesia justru sering dipuji sebagai bangsa yang tangguh. Pujian itu tidak keliru.
Dalam berbagai krisis, masyarakat Indonesia selalu menemukan cara untuk bertahan. Ketika keadaan sulit, mereka menyesuaikan diri. Ketika sistem tidak bekerja sebagaimana mestinya, mereka menciptakan jalan keluarnya sendiri. Ketika tekanan datang bertubi-tubi, mereka tetap melanjutkan hidup.
Namun di sinilah letak persoalannya. Ketangguhan tidak hanya diukur dari kemampuan bertahan tetapi juga dari kemampuan memastikan bahwa kesulitan yang sama tidak terus berulang.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah rakyat Indonesia tangguh, melainkan mengapa ketangguhan itu terus dibutuhkan.
Jangan-jangan yang selama ini kita rayakan sebagai kekuatan bangsa sesungguhnya adalah kemampuan luar biasa untuk hidup berdampingan dengan persoalan yang tidak pernah benar-benar diselesaikan.
Di titik inilah paradoks Indonesia menjadi semakin terasa. Kita mengetahui semakin banyak masalah tetapi semakin sulit merasa terganggu olehnya. Kita mengeluhkan kualitas politik, lantas menjadikannya hiburan. Kita mengkritik berbagai kebijakan, lalu melupakannya ketika sensasi berikutnya datang. Kita menyadari tekanan hidup yang semakin berat tetapi perlahan menganggapnya sebagai bagian normal dari kehidupan.

